Seyegan – Jenang Upih Cibuk Kidul di Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, menjadi salah satu warisan kuliner tradisional yang kini berada di ambang kepunahan. Di tengah arus modernisasi, makanan khas berbahan dasar beras ini masih bertahan, meski jumlah pengrajinnya terus menyusut.

Di Padukuhan Cibuk Kidul, yang selama ini dikenal sebagai kawasan wisata mina padi, Jenang Upih justru menjadi kekayaan kuliner yang menyimpan nilai sejarah dan tradisi panjang. Makanan ini tidak hanya menawarkan cita rasa khas, tetapi juga proses pembuatan yang unik dan tidak bisa digantikan oleh teknologi modern.

Salah satu pengrajin yang masih setia menjaga tradisi ini adalah Rabikem. Perempuan sepuh tersebut merupakan generasi kedua pembuat Jenang Upih yang hingga kini tetap mempertahankan cara produksi tradisional.

“Jenang Upih ini tidak bisa dibuat dari sembarang beras, harus menggunakan beras PB 5. Kalau bukan itu, hasilnya tidak akan jadi,” ujar Rabikem saat ditemui di kediamannya (18/4/2026).

Keunikan Jenang Upih terletak pada bahan dan teknik pembuatannya. Selain menggunakan beras varietas PB 5 yang kini semakin langka, proses memasaknya juga memanfaatkan pelepah pinang sebagai media pengukusan. Tanpa pelepah tersebut, jenang tidak akan terbentuk dengan sempurna.

Proses produksi Jenang Upih membutuhkan waktu yang cukup panjang, sekitar empat jam untuk memasak, kemudian didiamkan semalaman hingga teksturnya mengeras. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa tidak banyak generasi muda yang tertarik melanjutkan usaha ini.

Setiap hari, Rabikem memulai aktivitasnya sejak pukul dua dini hari. Ia menyiapkan jenang untuk dijual di Pasar Bibis Gancahan sebelum matahari terbit.

“Biasanya jam setengah enam saya sudah berangkat ke pasar, dan sekitar jam sembilan sudah habis,” tuturnya.

Di pasar, Jenang Upih dijual dengan harga yang relatif terjangkau, mulai dari dua ribu hingga lima ribu rupiah. Jenang ini umumnya disajikan bersama lauk tradisional seperti tempe bacem, tahu bacem, dan gembus bacem, serta dibungkus daun pisang yang menambah aroma khas.

Namun di balik keberlanjutannya, Jenang Upih menghadapi ancaman serius. Dari sekitar 20 pengrajin yang dulu ada di Cibuk Kidul, kini hanya tersisa empat orang yang masih aktif memproduksi makanan tradisional tersebut.

Kelangkaan bahan baku menjadi tantangan utama. Beras PB 5 semakin sulit ditemukan, meskipun sebagian petani lokal mulai mencoba menanamnya kembali. Selain itu, pelepah pinang yang menjadi bahan penting juga kini harus dibudidayakan secara khusus oleh warga.

Rabikem berharap tradisi ini tidak berhenti pada generasinya. Ia ingin anak-anaknya dapat melanjutkan usaha tersebut agar Jenang Upih tetap lestari.

“Harapannya, ada yang meneruskan. Sayang kalau sampai hilang,” ungkapnya.

Jenang Upih bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Cibuk Kidul. Di tengah perubahan zaman, keberadaan kuliner ini menjadi simbol ketahanan tradisi yang bertahan dari generasi ke generasi.

Tanpa adanya regenerasi dan dukungan dari berbagai pihak, bukan tidak mungkin Jenang Upih hanya akan menjadi cerita di masa depan. Upaya pelestarian menjadi kunci agar warisan kuliner khas Sleman ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.