Seyegan – Budidaya jamur lingzhi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, semakin menunjukkan potensi besar sebagai peluang agribisnis bernilai tinggi. Hal ini terlihat dari perkembangan Jamal Farming yang berlokasi di Barak 1, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, yang kini tidak hanya menjadi sentra produksi, tetapi juga pusat edukasi dan rujukan pembelajaran.
Melalui unit usahanya yang dikenal sebagai Cendawan Jamur Jogya, Jamal Farm mengembangkan jamur lingzhi (Ganoderma lucidum) dengan sistem budidaya modern. Metode yang digunakan berupa sistem tumpuk dalam kumbung dengan suhu stabil sekitar 30 derajat celsius dan tingkat kelembapan 70 hingga 80 persen.
Sistem ini dinilai efektif dalam menghasilkan panen optimal, meskipun setiap baglog hanya dapat dipanen satu kali. Dengan manajemen budidaya yang terstruktur, Jamal Farm mampu menjaga kualitas produk sekaligus memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Keberhasilan tersebut menarik perhatian kalangan akademisi, termasuk mahasiswa dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta. Sebanyak empat mahasiswi dari jurusan Agribisnis Hortikultura Biofarmaka menjalani program magang selama empat bulan di lokasi tersebut.
Mereka mempelajari secara langsung proses budidaya, manajemen usaha, hingga strategi pemasaran produk biofarmaka.
“Kami melihat Jamal Farm sebagai tempat belajar yang lengkap karena tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga manajemen usaha dan pemasaran,” ujar Ananda Putri, salah satu mahasiswi Polbangtan saat ditemui di lokasi, Sabtu (18/4/2026).
Hal serupa disampaikan oleh Amanda Mutiara yang menilai pengalaman magang ini menjadi bekal penting untuk membangun jiwa kewirausahaan di sektor pertanian modern.
“Kerja sama dengan pelaku usaha seperti ini memberikan pengalaman nyata bagi kami dalam memahami dunia agribisnis,” katanya.
Program Agribisnis Hortikultura Biofarmaka sendiri merupakan bidang strategis yang mengintegrasikan aspek budidaya, pengolahan, hingga pemasaran tanaman obat. Jamur lingzhi menjadi salah satu komoditas unggulan karena dikenal memiliki manfaat kesehatan serta nilai ekonomis tinggi.
Di Jamal Farm, mahasiswa tidak hanya belajar teknik budidaya, tetapi juga diajak berdiskusi mengenai tren pasar biofarmaka yang terus berkembang. Fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap produk herbal menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan sektor ini.
“Permintaan pasar terhadap tanaman biofarmaka sangat tinggi, terutama karena tren kembali ke alam atau back to nature,” ungkap Amanda.
Selain lingzhi, komoditas biofarmaka lain seperti jahe dan kunyit juga memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kesehatan dan kosmetik.
Dengan pendekatan teknologi dan sistem agribisnis terpadu, Jamal Farm membuktikan bahwa sektor pertanian mampu menjadi pilihan usaha yang menjanjikan, terutama bagi generasi muda.
Keberadaan Jamal Farm sebagai pusat produksi sekaligus edukasi menjadikannya rujukan penting, tidak hanya bagi pelaku usaha, tetapi juga bagi institusi pendidikan dalam mencetak petani milenial yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Budidaya jamur lingzhi kini tidak lagi sekadar aktivitas pertanian, melainkan bagian dari transformasi sektor agribisnis menuju arah yang lebih modern, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi.
