Seyegan – Upaya pencegahan stunting di Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, terus diperkuat melalui penguatan peran kader kesehatan dan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS). Dalam Rapat Koordinasi TPPS yang digelar di Gedung Serbaguna Kalurahan Margomulyo, Selasa (23/6/2026), konsep ABCDE cegah stunting ditegaskan sebagai “rantai emas perlindungan” generasi sejak sebelum kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Pesan itu disampaikan Penanggung Jawab Program Gizi Puskesmas Seyegan, Beti Nur Utami, di hadapan sekitar 60 kader kesehatan yang mengikuti forum koordinasi tersebut. Rakor ini menjadi bagian dari langkah Kalurahan Margomulyo memperkuat strategi percepatan penurunan stunting melalui edukasi, pemantauan, dan intervensi berbasis keluarga.
Menurut Beti, ABCDE bukan sekadar singkatan program teknis, melainkan rangkaian langkah yang saling terhubung dan tidak boleh terputus. Ia menjelaskan, kelima unsur itu mencakup aktif minum tablet tambah darah, bumil teratur memeriksakan kehamilan, cukup konsumsi protein hewani, datang ke posyandu setiap bulan, dan eksklusif ASI enam bulan.
“ABCDE bukanlah lima fungsi terpilih, melainkan sebuah rantai perlindungan yang tidak boleh terputus sejak sebelum kehamilan hingga anak berusia dua tahun,” ujar Beti dalam forum tersebut.
Ia menegaskan, pencegahan stunting tidak dapat dilakukan secara parsial. Setiap tahapan dalam ABCDE saling berkaitan. Jika satu mata rantai terlewat, risiko stunting tetap terbuka. Misalnya, anak mendapat ASI eksklusif tetapi tidak memperoleh asupan protein hewani yang cukup setelah usia enam bulan, maka tumbuh kembangnya tetap berisiko terganggu.
“Rantai ini sekuat mata rantai terlemahnya. Meninggalkan satu langkah saja akan membuat celah bagi stunting untuk masuk,” tegasnya.
Bagi Kalurahan Margomulyo, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak. Lebih jauh, stunting berkaitan dengan kualitas kesehatan, perkembangan kognitif, kemampuan belajar, hingga masa depan generasi. Karena itu, upaya pencegahan tidak hanya dibebankan kepada ibu hamil, tetapi juga melibatkan pemerintah kalurahan, tenaga kesehatan, kader posyandu, hingga tokoh masyarakat.
Dalam forum itu, para kader kesehatan disebut memegang peran penting sebagai ujung tombak pencegahan stunting di tingkat padukuhan. Mereka tidak hanya hadir saat kegiatan posyandu, tetapi juga aktif mendampingi keluarga, memantau kondisi ibu hamil, memastikan balita datang ke layanan kesehatan, serta mengedukasi orang tua terkait pola asuh dan pemenuhan gizi anak.
Gerakan pencegahan stunting di Margomulyo juga dibangun melalui pendekatan ekosistem. Pendampingan calon pengantin, pemantauan ibu hamil, edukasi ASI eksklusif, pemberian makanan bergizi, hingga penguatan peran keluarga menjadi bagian dari strategi yang disusun bersama. Dengan pola itu, pencegahan stunting diharapkan berjalan sejak hulu, bukan baru ditangani saat anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan.
Rakor TPPS Margomulyo sendiri digelar sebagai forum konsolidasi untuk menyamakan langkah seluruh unsur yang terlibat dalam penurunan stunting. Pemerintah kalurahan berharap konsep ABCDE cegah stunting dapat dipahami sebagai panduan praktis yang sederhana, tetapi kuat, dalam menjaga 1.000 Hari Pertama Kehidupan anak.
Melalui penguatan kader kesehatan dan edukasi yang berkelanjutan, Kalurahan Margomulyo menargetkan upaya pencegahan stunting dapat semakin efektif. Harapannya, tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan tumbuh optimal hanya karena kurangnya pengetahuan, pendampingan, atau akses terhadap layanan dasar kesehatan dan gizi.
Dengan semangat kolaborasi itu, ABCDE kini diposisikan bukan hanya sebagai slogan kesehatan, melainkan sebagai rantai emas penjaga generasi dari ancaman stunting di Margomulyo.