Seyegan – Mahasiswa KKN Unit 75 Universitas Islam Indonesia (UII) resmi mengakhiri pengabdian selama satu bulan di Padukuhan Jamblangan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Selain menjadi penanda berakhirnya kegiatan, perpisahan tersebut juga menjadi momentum evaluasi dan penyampaian pesan masyarakat kepada mahasiswa.

Perpisahan KKN Unit 75 UII berlangsung di Rumah Bu Dukuh Jamblangan bersama tokoh masyarakat dan anggota Karang Taruna, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan ditandai dengan penyerahan plakat KKN Unit 75 UII kepada Dukuh Jamblangan, Surtiningsih. Plakat tersebut menjadi simbol berakhirnya masa pengabdian sekaligus bentuk apresiasi mahasiswa atas sambutan dan dukungan masyarakat selama pelaksanaan KKN.

KKN Unit 75 UII mengusung tagline “Belajar Bersama, Mengabdi Bermakna”. Selama berada di Jamblangan, mahasiswa menjalankan sejumlah program yang dirancang untuk mendukung kebutuhan masyarakat.

Ketua Unit 75 KKN UII, Muhammad Fauzan Alfuadi, menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Jamblangan yang telah menerima dan mendukung mahasiswa selama kegiatan berlangsung.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Jamblangan yang telah menerima kami dengan baik dan telah bekerja sama dalam pelaksanaan program kerja. Alhamdulillah, seluruh program yang kami rencanakan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan,” ujar Fauzan.

Selama satu bulan pengabdian, KKN Unit 75 UII menjalankan tiga program kerja utama. Program tersebut meliputi pelatihan biopori, pendampingan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), dan bimbingan belajar bagi masyarakat.

Selain program kerja, mahasiswa juga memberikan sejumlah hibah untuk mendukung kebutuhan lingkungan masyarakat. Tiga RW di Padukuhan Jamblangan menerima bantuan tempat sampah.

Sementara itu, Karang Taruna Jamblangan memperoleh bantuan berupa tabung biopori. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung keberlanjutan kegiatan yang telah dilakukan selama masa KKN.

Namun, pelaksanaan program juga mendapat catatan dari masyarakat. Tokoh masyarakat Jamblangan, Sutarto Agus, menilai waktu satu bulan relatif singkat untuk memahami kondisi sekaligus membantu menyelesaikan persoalan di wilayah KKN.

“Satu bulan untuk kegiatan KKN merupakan waktu yang pendek sekali. Dengan kondisi tersebut, sulit rasanya untuk memfasilitasi permasalahan yang ada di wilayah KKN,” kata Sutarto.

Sutarto menilai pemilihan program kerja perlu didahului dengan pencermatan terhadap kondisi dan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, program KKN akan lebih efektif apabila sesuai dengan karakteristik wilayah dan program yang telah berjalan di masyarakat.

Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah program biopori. Program tersebut dipilih sebagai salah satu upaya mengelola sampah organik rumah tangga sekaligus membantu pemanenan air hujan.

Menurut Sutarto, kondisi lingkungan Jamblangan perlu menjadi pertimbangan dalam penerapan biopori. Ketersediaan lahan di rumah warga, kondisi tanah yang porus, serta kebiasaan masyarakat yang belum familiar dengan teknologi tersebut menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa KKN berikutnya untuk melibatkan tokoh masyarakat sejak tahap perencanaan program.

“Dalam penentuan program kerja seperti itu, sebaiknya melibatkan tokoh masyarakat setempat sehingga program yang dipilih bisa sejalan dengan program yang sudah ada di wilayah KKN,” ujarnya.

Masukan tersebut menjadi evaluasi penting agar kegiatan KKN Unit 75 UII maupun program KKN berikutnya tidak hanya mengejar terlaksananya kegiatan. Program juga perlu memberikan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.

Apresiasi juga disampaikan kalangan pemuda Jamblangan. Ketua Perkumpulan Muda Mudi (PERMADI) Jamblangan, Muhammad Ridho Kurniawan, menyampaikan terima kasih atas keterlibatan mahasiswa KKN Unit 75 UII dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Mahasiswa turut mengambil bagian dalam rangkaian kegiatan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Padukuhan Jamblangan.

Keterlibatan tersebut menjadi ruang interaksi antara mahasiswa dan pemuda setempat. Selama satu bulan, hubungan keduanya berkembang melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.

Sementara itu, Dukuh Jamblangan Surtiningsih berpesan agar pengalaman selama KKN tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan Jamblangan.

“Jadikan kegiatan KKN sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat, sehingga nantinya dapat berkontribusi dalam pembangunan masyarakat,” pesan Surtiningsih.

Perpisahan KKN Unit 75 UII di Jamblangan tidak hanya menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk menyampaikan apresiasi, mengevaluasi program, dan memberikan masukan bagi pelaksanaan KKN di masa mendatang.

Pengalaman selama satu bulan diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memahami dinamika kehidupan masyarakat. Bagi warga Jamblangan, program dan interaksi yang telah terbangun diharapkan tetap memberikan manfaat setelah mahasiswa kembali melanjutkan aktivitas akademiknya.

Dengan berakhirnya masa KKN, mahasiswa Unit 75 UII resmi berpamitan kepada masyarakat Jamblangan. Meski demikian, pengalaman, pembelajaran, dan hubungan yang terbentuk selama pengabdian diharapkan menjadi bagian dari kontribusi yang terus dikenang oleh kedua pihak.