Seyegan – Pengelolaan limbah rumah tangga menjadi salah satu perhatian dalam upaya menciptakan lingkungan sehat sekaligus mendukung percepatan penurunan stunting di Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Edukasi mengenai sanitasi dan pengelolaan limbah diberikan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kementerian Kesehatan Yogyakarta.
Kegiatan bertema “STBM dan Praktik Baik Pengelolaan Limbah” tersebut berlangsung di Gedung Serbaguna Kalurahan Margomulyo, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan, mulai dari Sanitarian Puskesmas Seyegan, pemerintah kalurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, para dukuh, kader kesehatan, hingga tokoh masyarakat.
Kegiatan ini menekankan bahwa pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi. Kondisi lingkungan, sanitasi, serta perilaku hidup bersih dan sehat juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat.
Salah satu materi disampaikan Sigid Sudaryanto, SKM, M.Pd, staf pendidikan Poltekkes Kementerian Kesehatan Yogyakarta. Ia membahas Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Pilar Kelima, yaitu pengelolaan limbah cair rumah tangga.
Menurut Sigid, pendekatan STBM diperlukan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga higiene dan sanitasi. Perubahan tersebut dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat sehingga warga tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut terlibat dalam menyelesaikan persoalan sanitasi di lingkungannya.
“STBM bukan sekadar program sanitasi, tetapi merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat,” ujar Sigid.
Ia menjelaskan, STBM telah menjadi pendekatan nasional dalam mendorong perubahan perilaku higiene dan sanitasi. Kabupaten Sleman termasuk wilayah yang aktif mengenalkan pendekatan tersebut kepada masyarakat. Sementara di Kapanewon Seyegan, pemicuan STBM telah dilakukan sejak 2017.
Dalam penerapannya, STBM memiliki lima pilar. Kelima pilar tersebut meliputi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS/BABS), Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, serta Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga.
Sigid menyoroti masih adanya persoalan dalam pengelolaan limbah di masyarakat. Persoalan tersebut berkaitan dengan perilaku masyarakat sekaligus ketersediaan sarana dan prasarana sanitasi yang belum sepenuhnya memadai.
Menurutnya, pengelolaan limbah rumah tangga yang tidak dilakukan dengan baik dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan. Limbah yang dibuang secara sembarangan dapat menjadi sumber pencemaran sekaligus tempat berkembangnya kuman dan vektor penyakit.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit berbasis lingkungan. Beberapa di antaranya adalah diare, hepatitis, demam tifoid, dan kolera.
“Pengelolaan limbah yang tidak baik bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya dapat merembet pada kesehatan masyarakat dan secara tidak langsung berkontribusi terhadap persoalan stunting,” jelasnya.
Lingkungan yang tidak sehat juga dapat menimbulkan persoalan lain. Bau tidak sedap, menurunnya estetika lingkungan, serta munculnya tempat berkembang biak kuman dan vektor penyakit menjadi dampak yang dapat dirasakan masyarakat secara langsung.
Dampak buruk tersebut juga dapat berlanjut pada aspek sosial dan ekonomi. Ketika masyarakat mengalami penyakit akibat lingkungan yang tidak sehat, keluarga harus menanggung biaya pengobatan dan berpotensi mengalami gangguan aktivitas sehari-hari.
“Kalau lingkungan tidak dikelola dengan benar, dampaknya bukan hanya membuat lingkungan tidak nyaman. Masyarakat juga dapat menanggung beban biaya ketika harus berobat akibat penyakit yang berbasis lingkungan,” katanya.
Karena itu, Sigid mendorong masyarakat Margomulyo untuk memperbaiki praktik sanitasi dan pengelolaan lingkungan secara bertahap. Menurutnya, perubahan perilaku perlu dimulai dari tingkat rumah tangga dan dilakukan secara konsisten.
Pengelolaan limbah juga membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Pemerintah kalurahan, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, serta warga perlu berkolaborasi agar edukasi yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut, Poltekkes Kementerian Kesehatan Yogyakarta berharap pengetahuan mengenai STBM tidak berhenti pada forum edukasi. Pemahaman yang diperoleh peserta diharapkan diteruskan kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan masing-masing.
Dengan pengelolaan limbah rumah tangga yang lebih baik, masyarakat Margomulyo diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Upaya tersebut sekaligus dapat menekan risiko penyakit berbasis lingkungan dan menjadi bagian dari dukungan terhadap percepatan penurunan stunting di Kalurahan Margomulyo.
