Seyegan – Kampung Emas Krapyak IX, Margoagung, Seyegan, Sleman, menerima kunjungan delegasi UiTM Malaysia pada Selasa (15/9/2026). Sebanyak 15 mahasiswa Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia bersama tujuh dosen pendamping datang untuk mempelajari kearifan lokal dan model pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari program kolaborasi internasional sekaligus Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diinisiasi UNY. Para mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemaparan mengenai program pemberdayaan, tetapi juga mengikuti berbagai aktivitas masyarakat secara langsung.
Kampung Emas Krapyak IX dikembangkan sebagai laboratorium sosial sekaligus pusat studi ilmiah UNY. Model tersebut memadukan pemberdayaan masyarakat dengan penerapan keilmuan melalui sinergi empat unsur, yaitu pemerintah, keraton, kampung, dan perguruan tinggi.
Salah satu program yang diperkenalkan kepada delegasi UiTM Malaysia adalah Songo Berkah atau Sembilan Berkah. Program tersebut menjadi bagian penting dari model pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan di Kampung Emas Krapyak IX bersama UNY.
Koordinator Bidang Pendidikan Kampung Emas Krapyak IX, Dr. Nur Laily Tri Wulansari, M.I.Kom, yang akrab disapa Sari, menjelaskan bahwa Songo Berkah mencakup sembilan program unggulan untuk mengembangkan potensi masyarakat.
“Kampung Emas ini merupakan salah satu model yang menggabungkan. Pada Kampung Emas ini terdapat sembilan program yang dinamai ‘Songo Berkah’,” ujar Sari.
Sembilan program tersebut meliputi Pendidikan Berkah, Seni Berkah, Olahraga Berkah, Sayur Buah dan Tani Berkah, Mendo Berkah, Mina Berkah, Tahu Berkah, Kuliner Berkah, dan Unggas Berkah.
Program Pendidikan Berkah diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Program ini juga mendukung pengembangan Kampung Emas sebagai pusat studi ilmiah.
Sementara itu, Seni Berkah menjadi wadah pelestarian seni dan budaya lokal. Kegiatannya antara lain karawitan, ketoprak, dan pedalangan anak.
Pada sektor ekonomi dan pemanfaatan potensi wilayah, masyarakat mengembangkan pertanian sayur dan buah, peternakan kambing dan kelinci melalui Mendo Berkah, budidaya ikan air tawar melalui Mina Berkah, pengolahan tahu, kuliner, serta peternakan unggas.
Setelah mendapatkan pengenalan mengenai program Kampung Emas, para mahasiswa UiTM dibagi menjadi tiga rombongan. Mereka kemudian mengikuti sejumlah aktivitas masyarakat sesuai dengan bidang yang telah disiapkan.
Peserta mencoba olahraga tradisional jemparingan, mengenal pengolahan kuliner melalui angkringan, mengunjungi kandang kambing, melihat budidaya ikan, serta mengikuti pelatihan karawitan.
Sebelum praktik dimulai, rombongan UiTM terlebih dahulu menyaksikan pertunjukan karawitan yang dibawakan anak-anak SD Margoagung. Pertunjukan tersebut menjadi pengantar bagi para mahasiswa untuk mengenal seni tradisional Jawa secara langsung.
Para tamu juga diperkenalkan dengan makanan tradisional masyarakat setempat. Tiwul-gatot, jenang upih, sayur lodeh, dan minuman secang disajikan sebagai bagian dari pengenalan kuliner lokal.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian mahasiswa adalah pelatihan karawitan. Dr. Cipta Budi Handaya, M.Pd., dosen Program Studi Seni Musik UNY sekaligus pelatih karawitan Kampung Emas, mengenalkan perangkat gamelan kepada peserta.
Mahasiswa kemudian diberi kesempatan memainkan sejumlah instrumen. Mereka juga diajak menyanyikan sebuah lagu bersama dengan iringan gamelan.
Antusiasme peserta terlihat saat mereka mencoba memahami nama dan fungsi perangkat gamelan. Dengan mengikuti arahan pelatih, mahasiswa berusaha memainkan instrumen secara bersama-sama hingga menghasilkan iringan yang harmonis.
Staf administrasi UiTM, Marzuki, mengapresiasi metode pelatihan yang diberikan. Menurutnya, Cipta Budi Handaya mampu membawa peserta dari tahap pengenalan menuju praktik dalam waktu relatif singkat.
Mahasiswa dapat mengenal nama perangkat gamelan, mencoba memainkan instrumen, hingga bernyanyi bersama dalam iringan gamelan hanya dalam hitungan jam.
Kunjungan delegasi UiTM Malaysia menunjukkan bahwa program kolaborasi perguruan tinggi dapat berlangsung melalui interaksi langsung dengan masyarakat. Mahasiswa memperoleh pengalaman untuk memahami budaya lokal sekaligus melihat penerapan pemberdayaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Kampung Emas Krapyak IX, kunjungan tersebut juga memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Potensi masyarakat tidak hanya diperkenalkan sebagai kekayaan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari pendidikan, aktivitas sosial, dan pengembangan ekonomi lokal.
Melalui konsep Songo Berkah, mahasiswa UiTM dapat melihat secara langsung bagaimana berbagai potensi masyarakat dikembangkan melalui pendampingan dan kolaborasi antara kampus dan masyarakat.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat posisi Kampung Emas Krapyak IX sebagai ruang perjumpaan antara perguruan tinggi, masyarakat, budaya lokal, dan jejaring internasional. Kolaborasi seperti ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mempelajari kearifan lokal melalui pengalaman langsung di tengah masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, program PkM internasional tidak berhenti pada kegiatan kunjungan. Interaksi langsung menjadi sarana pembelajaran kontekstual mengenai budaya, potensi lokal, serta praktik pemberdayaan masyarakat yang dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan.
