Seyegan – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Saka Seyegan meneguhkan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan masyarakat dan mendukung penuntasan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Sleman. Komitmen tersebut disampaikan dalam peringatan Milad ke-5 PKBM Saka Seyegan di Joglo Nartoatmojo, Margokaton, Seyegan, Sabtu (26/9/2026).

Mengusung tema “Nyawiji dalam Karya, Melangkah Menuju Masa Depan”, peringatan milad menjadi momentum evaluasi perjalanan lembaga sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat. Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sleman, Dinas Sosial Sleman, LK3 Sembada Sleman, Kapanewon Seyegan, tutor, serta tokoh masyarakat.

Kepala Sekolah PKBM Saka Seyegan, Hermawan Triyono atau Kak Her, mengatakan kehadiran unsur pemerintah dalam kegiatan tersebut menjadi dukungan bagi PKBM untuk terus mengembangkan pendidikan nonformal di masyarakat.

Menurutnya, PKBM Saka Seyegan siap mengambil peran sebagai mitra Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mendukung penuntasan wajib belajar dan pengentasan ATS.

“PKBM Saka Seyegan berkomitmen penuh menjadi mitra Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mendukung penuntasan wajib belajar dan pengentasan Anak Tidak Sekolah,” tegas Kak Her.

PKBM merupakan satuan pendidikan nonformal yang dibentuk dari, oleh, dan untuk masyarakat. Lembaga tersebut memberikan alternatif pendidikan bagi masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal, termasuk warga yang mengalami putus sekolah.

Salah satu layanan utama PKBM Saka Seyegan adalah pendidikan kesetaraan melalui Program Paket A, Paket B, dan Paket C. Ketiga program tersebut masing-masing setara dengan jenjang SD, SMP, dan SMA.

Selain pendidikan kesetaraan, PKBM juga dapat mengembangkan berbagai program keterampilan dan kecakapan hidup. Program tersebut antara lain pelatihan komputer, menjahit, tata boga, bahasa, kewirausahaan, serta kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya.

Kak Her menilai penuntasan wajib belajar dan pengentasan ATS membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan akses belajar, tetapi juga dapat berhubungan dengan kondisi sosial, ekonomi, keluarga, dan lingkungan peserta didik.

“Tujuan penuntasan wajib belajar dan pengentasan Anak Tidak Sekolah tidak dapat diselesaikan secara parsial. Karena itu, kami berharap momentum ini menjadi langkah untuk memperkuat kolaborasi lintas sektoral,” jelasnya.

Ia menyebut sejumlah ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama pemerintah. Dinas Pendidikan dapat berperan dalam penguatan mutu kurikulum pendidikan nonformal, penjaminan mutu lulusan, serta percepatan penanganan ATS.

Sementara itu, Dispora Sleman dapat berkontribusi melalui pendampingan psikososial dan penguatan ketahanan keluarga bagi warga belajar. Dukungan juga diperlukan untuk menangani berbagai persoalan sosial yang dapat memengaruhi keberlanjutan pendidikan.

Di tingkat lokal, Kapanewon Seyegan dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung pendataan warga yang membutuhkan layanan pendidikan. Kapanewon juga dapat membantu sosialisasi program pendidikan masyarakat hingga tingkat padukuhan serta mengintegrasikannya dengan program pemberdayaan masyarakat.

Memasuki usia lima tahun, PKBM Saka Seyegan juga ingin memperkuat kelembagaan dan meningkatkan manfaat program bagi masyarakat. Pendidikan nonformal dinilai dapat menjadi jalur bagi masyarakat untuk kembali memperoleh kesempatan belajar tanpa dibatasi usia.

“Pendidikan tidak mengenal batas usia. Momentum milad ke-5 ini menjadikan PKBM Saka Seyegan semakin solid, profesional, dan terus memberikan kemanfaatan yang nyata bagi masyarakat Kabupaten Sleman,” pungkas Kak Her.

Melalui momentum Milad ke-5 tersebut, PKBM Saka Seyegan menargetkan penguatan kerja sama dengan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas akses pendidikan, mendukung penuntasan Anak Tidak Sekolah, serta meningkatkan keterampilan dan kemandirian masyarakat di Kabupaten Sleman.