Seyegan – Di sebuah pekarangan asri di Padukuhan Cibuk Kidul, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Sri Rusmiyati merawat berbagai tanaman sayur, tanaman obat, dan buah. Perempuan berusia 51 tahun yang akrab disapa Bu Rus ini juga tengah mengembangkan budi daya anggur. Buah-buahnya mulai bermunculan setelah setahun dirawat.
Namun, bukan hanya tanaman yang tumbuh di pekarangannya. Kepedulian, keterampilan, dan semangat pemberdayaan masyarakat juga terus ia kembangkan. Melalui berbagai kegiatan sosial, Bu Rus berupaya menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka ruang bagi kelompok disabilitas untuk tumbuh dan mandiri.
Bagi Bu Rus, setiap kegiatan merupakan kesempatan untuk berbagi dan berkontribusi. Ia percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak.
Keseharian Bu Rus di Cibuk Kidul dipenuhi beragam aktivitas sosial. Ia terlibat sebagai kader Posyandu, Dasa Wisma, PKK, Pengelola Sampah Mandiri, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), serta Kader Kesehatan Jiwa.
Berbagai peran tersebut dijalankannya sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Ia tidak sekadar mengikuti kegiatan, tetapi juga berusaha memastikan setiap aktivitas memberikan manfaat nyata.
Kepeduliannya terhadap lingkungan, misalnya, diwujudkan melalui pengelolaan pekarangan dan pemanfaatan barang bekas. Kebiasaan menjahit yang telah lama dimilikinya berkembang menjadi keterampilan mengolah bahan yang tidak terpakai menjadi produk bernilai guna.
Salah satu bahan yang dimanfaatkannya adalah plastik kresek bekas. Bahan yang kerap dianggap tidak berguna itu dapat diolah menjadi kerajinan, termasuk tas yang memiliki nilai ekonomi.
Pada gelaran Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 di Sleman, Bu Rus turut berpartisipasi dalam pembuatan cendera mata berupa tas dari plastik kresek bekas. Keterlibatannya menunjukkan bahwa upaya mengurangi sampah dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kreativitas masyarakat.
Melalui keterampilan tersebut, ia ingin mengajak masyarakat melihat sampah dari sudut pandang berbeda. Barang bekas tidak selalu berakhir sebagai limbah karena masih dapat dimanfaatkan kembali melalui kreativitas dan keterampilan.
Di balik aktivitasnya dalam bidang lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, terdapat sisi kehidupan yang membuat kiprah Bu Rus terasa lebih personal. Ia aktif mendampingi Orang dengan Disabilitas Psikososial (ODDP) dan terlibat dalam berbagai pelatihan serta kegiatan kelompok disabilitas.
Kepedulian tersebut juga tumbuh dari pengalaman keluarganya. Putri semata wayang Bu Rus merupakan penyandang disabilitas intelektual. Pengalaman sebagai seorang ibu membuatnya memahami pentingnya dukungan, penerimaan, dan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkembang.
Bagi Bu Rus, pendampingan bukan hanya tentang membantu orang lain menjalani kegiatan. Lebih dari itu, pendampingan berarti memberikan ruang agar setiap individu dapat belajar, berkarya, dan membangun kemandirian sesuai dengan kemampuannya.
Ia juga aktif dalam Self Help Group (SHG) atau kelompok swabantu. Kelompok ini menjadi ruang bagi orang-orang dengan pengalaman atau kebutuhan serupa untuk saling berbagi, memberikan dukungan, dan memperkuat proses pemulihan.
Melalui kegiatan tersebut, semangat kebersamaan terus dibangun. Setiap anggota didorong untuk menyadari bahwa mereka memiliki kesempatan untuk berkembang dan berperan dalam kehidupan bermasyarakat.
Meski berbagai kegiatan telah berjalan, Bu Rus menyadari bahwa pendampingan membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Keterbatasan sumber daya dapat memengaruhi kesempatan kelompok disabilitas untuk mengikuti pelatihan dan mengembangkan keterampilan.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan anggaran yang memadai bagi kegiatan pemberdayaan disabilitas.
“Harapannya ada alokasi anggaran yang memadai, sehingga kelompok disabilitas bisa difasilitasi untuk meningkatkan kapasitas dan menuju kemandirian,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya (8/10/2026).
Menurutnya, dukungan tersebut dapat membuka kesempatan lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk memperoleh keterampilan yang bermanfaat. Dengan pendampingan dan fasilitas yang sesuai, mereka juga berpeluang menghasilkan karya serta mengembangkan potensi diri.
Upaya pemberdayaan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan. Kesempatan untuk belajar, berlatih, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial juga menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian.
Harapan Bu Rus mencerminkan kebutuhan akan lingkungan yang lebih inklusif. Masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat bekerja sama agar penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara untuk berkembang.
Di usianya yang menginjak 51 tahun, Bu Rus tetap aktif menjalankan berbagai kegiatan. Ia merawat tanaman, mengembangkan keterampilan daur ulang, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mendampingi kelompok disabilitas.
Semua aktivitas tersebut berangkat dari semangat sederhana: menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
Kiprah Bu Rus juga menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Pekarangan rumah bisa menjadi sumber pangan, barang bekas dapat diubah menjadi produk bernilai, dan kegiatan kelompok dapat menjadi ruang untuk saling menguatkan.
Dari Padukuhan Cibuk Kidul, Bu Rus membuktikan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai melalui langkah besar. Kepedulian yang dirawat secara konsisten dapat memberikan manfaat bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
Baginya, menjadi kader bukan sekadar hadir dalam kegiatan. Menjadi kader berarti bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan perhatian ketika orang lain membutuhkan dukungan.
Seperti anggur yang tumbuh di pekarangannya, setiap upaya membutuhkan proses, kesabaran, dan perawatan. Hasilnya mungkin tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Namun, ketika terus dijaga, upaya tersebut dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.
Dari rumahnya di Cibuk Kidul, Bu Rus terus menanam harapan. Harapan bagi lingkungan yang lebih lestari, masyarakat yang lebih peduli, serta kelompok disabilitas yang memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan mandiri.
