Seyegan – Produktivitas ubi jalar varietas Bima Pasru di Bulak Kasuran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, mencapai 27,8 ton per hektare berdasarkan hasil pengubinan. Capaian tersebut diketahui dalam kegiatan Panen Bersama Komoditas Ubi Jalar yang digelar pada Selasa (6/10/2026) di lahan seluas 1.000 meter persegi milik Ngadirin, anggota Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur.
Kegiatan tersebut diselenggarakan BP4 Wilayah III Seyegan bersama Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman. Panen bersama ini menjadi sarana untuk mengetahui produktivitas lahan sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung ketahanan pangan dan pengembangan komoditas pertanian lokal.
Sejumlah unsur menghadiri kegiatan tersebut, antara lain jajaran Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Kapolsek dan Danramil Seyegan, staf Kawat Kemakmuran Kapanewon Seyegan, BP4 Wilayah III Seyegan, Ulu-ulu Margodadi, Gapoktan Margodadi, Plt Dukuh Kasuran, anggota Poktan Ngudi Makmur, serta KWT Pelangi Terwilen Margodadi.
Sebelum seluruh tanaman dipanen, petugas melakukan pengubinan untuk memperkirakan produktivitas ubi jalar. Metode ini dilakukan dengan mengambil sampel pada sebagian area pertanaman, kemudian menimbang hasil panen sebagai dasar perhitungan produksi per hektare.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilayah Margodadi, Subiyanto, menjelaskan bahwa pengubinan dilakukan dengan mengambil sampel area secara acak. Ukuran sampel yang umum digunakan dalam pengubinan tersebut adalah 2,5 x 2,5 meter.
“Ubi jalar yang berada di dalam kotak sampel tersebut dipanen, kemudian dibersihkan dan ditimbang. Hasil timbangan dari sampel inilah yang selanjutnya dihitung menggunakan rumus tertentu untuk mendapatkan perkiraan hasil dalam satuan ton per hektare,” jelas Subiyanto di sela kegiatan.
Dalam pengubinan di Bulak Kasuran, petugas mengambil sampel dari dua lokasi. Hasil penimbangan dari kedua sampel tersebut kemudian dirata-rata untuk menghitung perkiraan produktivitas lahan.
Hasil pengukuran menunjukkan produktivitas ubi jalar mencapai 27,8 ton per hektare. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai potensi hasil budidaya Bima Pasru di lahan milik petani setempat.
Data pengubinan juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi petani dan penyuluh pertanian. Informasi produktivitas dapat digunakan untuk meninjau penerapan teknik budidaya, penggunaan pupuk, pemilihan varietas benih, dan metode pengairan.
Selain bermanfaat bagi petani, data tersebut dapat mendukung penyusunan informasi produksi pangan di tingkat daerah. Dengan data lapangan yang terukur, potensi komoditas pertanian dapat dipetakan sebagai salah satu bahan pendukung perencanaan ketahanan pangan.
Bima Pasru Berpotensi Dikembangkan sebagai Pangan Unggulan
Ubi jalar yang dipanen dalam kegiatan tersebut merupakan varietas Bima Pasru. Dalam diskusi setelah panen, peserta membahas karakteristik dan potensi pengembangan varietas tersebut sebagai komoditas pangan lokal.
Diskusi berlangsung di serambi Masjid Ar Rohman, tidak jauh dari Bulak Kasuran, dengan Subiyanto sebagai moderator. Pembahasan mencakup potensi varietas, karakteristik hasil panen, serta peluang pengembangannya untuk meningkatkan nilai ekonomi bagi petani.
Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam diskusi, Bima Pasru merupakan varietas hasil eksplorasi sumber daya genetik lokal Indonesia. Ubi ini dikenal memiliki tekstur yang baik dan cita rasa legit yang dinilai memiliki kemiripan dengan ubi Cilembu.
Karakteristik tersebut dinilai membuka peluang bagi Bima Pasru untuk dikembangkan sebagai komoditas pangan bernilai ekonomi. Varietas ini juga dikembangkan agar berpotensi bersaing di pasar ekspor.
Dari sisi perbenihan, bibit dan benih Bima Pasru disebut telah didaftarkan dan tersedia secara resmi sebagai benih tanaman umbi bersertifikat bagi petani.
Selain pengukuran produktivitas dan diskusi varietas, kegiatan panen berlangsung dalam suasana gotong royong. Para peserta bersama-sama membongkar tanah dan mengangkat ubi jalar yang siap dipanen.
Kegiatan tersebut memperlihatkan keterlibatan petani, pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat dalam mendukung sektor pertanian. Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperkuat pendampingan kepada petani sekaligus mendorong pengembangan potensi pangan lokal.
“Setiap ubi jalar yang terangkat bukan sekadar hasil bumi, melainkan bukti nyata manunggalnya TNI bersama masyarakat dalam mengawal ketahanan pangan daerah,” ujar Kapten Wahyani.
Panen bersama di Bulak Kasuran tidak hanya menghasilkan data produktivitas sebesar 27,8 ton per hektare. Kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai budidaya, pemanfaatan data pertanian, dan peluang pengembangan varietas lokal.
Melalui penguatan kolaborasi dan pendampingan, potensi ubi jalar Bima Pasru di Seyegan diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani.