Seyegan – Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, menyiapkan rangkaian peringatan Hari Jadi ke-80 pada 30 Oktober hingga 15 November 2026. Mengusung tema “Merawat Seni, Menjaga Tradisi Budaya”, kegiatan ini menjadi upaya memperkuat pelestarian budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat menuju Kalurahan Mandiri Budaya.

Pemantapan agenda dibahas dalam rapat panitia Hari Jadi Kalurahan Margomulyo di Gedung Serbaguna Kalurahan Margomulyo, Jumat (16/10/2026). Rapat tersebut dihadiri Lurah dan pamong kalurahan, Ketua beserta jajaran Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta panitia Hari Jadi.

Kamituwo Margomulyo sekaligus penanggung jawab kegiatan, Prasetyo Sujanarko, mengatakan peringatan tahun ini tetap dilaksanakan secara sederhana di tengah efisiensi anggaran. Meski demikian, kegiatan diharapkan tetap menjadi ruang kebersamaan dan memperkuat semangat gotong royong warga.

“Hari Jadi Margomulyo ini merupakan momentum kebersamaan seluruh masyarakat. Karena itu, pelaksanaannya harus kita sengkuyung bersama-sama. Anggaran yang diberikan kepada masing-masing padukuhan untuk menampilkan seni dan budaya sifatnya hanya stimulan,” ungkap Prasetyo.

Carik Margomulyo, Irvan Susanto, S.Pd., memimpin rapat yang membahas pemantapan teknis pelaksanaan kegiatan. Panitia menyiapkan sejumlah agenda yang melibatkan masyarakat, pelaku seni, pelaku UMKM, serta berbagai unsur kelembagaan di tingkat kalurahan.

Rangkaian Hari Jadi Margomulyo diawali dengan Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal), berupa pertandingan bola voli antarpadukuhan pada 30 Oktober–6 November 2026. Kegiatan ini diharapkan mempererat hubungan antarwarga sekaligus mendorong partisipasi masyarakat melalui olahraga.

Pada 6 November 2026, panitia juga menjadwalkan ziarah makam para lurah di tiga lokasi. Agenda tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berkontribusi dalam perjalanan pemerintahan dan pembangunan Kalurahan Margomulyo.

Selanjutnya, Gebyar UMKM akan berlangsung pada 7–8 November 2026. Kegiatan ini menghadirkan bazar produk lokal, hiburan masyarakat, serta pementasan jathilan. Panitia juga menyediakan lapak bazar yang dapat dimanfaatkan atau disewa pelaku UMKM untuk memperkenalkan dan memasarkan produk mereka.

Pada 8 November 2026, masyarakat juga dapat mengikuti senam massal dan menyaksikan pentas seni. Perpaduan kegiatan olahraga, hiburan, dan bazar tersebut diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan warga sekaligus membuka peluang pemasaran bagi usaha lokal.

Setelah rangkaian kegiatan olahraga dan pemberdayaan ekonomi, peringatan dilanjutkan dengan Malam Tirakatan pada 11 November 2026. Kegiatan ini akan diisi kenduri sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan Kalurahan Margomulyo hingga memasuki usia ke-80.

Puncak peringatan dijadwalkan berlangsung pada 15 November 2026 di Lapangan Margomulyo. Agenda utama berupa upacara Hari Jadi dan gelar budaya yang melibatkan unsur masyarakat serta pelaku seni budaya.

Tiga kalurahan lama, yakni Jamblangan, Sompokan, dan Gerjen, akan mengikuti upacara tersebut dengan menampilkan parade budaya yang diawali bergodo seni budaya. Penampilan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan menjaga warisan tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat Margomulyo.

Melalui gelar budaya, panitia berharap masyarakat dapat semakin mengenali sejarah, identitas, dan kekayaan budaya lokal. Keterlibatan berbagai kelompok juga diharapkan menjaga kesinambungan tradisi antargenerasi.

Prasetyo berharap peringatan Hari Jadi Margomulyo tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum ini diharapkan menjadi bagian dari upaya mewujudkan Kalurahan Mandiri Budaya, program Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta yang diatur dalam Peraturan Gubernur DIY Nomor 93 Tahun 2020.

“Harapannya, melalui momentum Hari Jadi Margomulyo ke-80 ini, kebudayaan dapat menjadi motor penggerak kohesi sosial sekaligus pertumbuhan ekonomi masyarakat kalurahan. Pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi lokal,” tegasnya.

Upaya menuju Kalurahan Mandiri Budaya dilakukan dengan mengintegrasikan dua pilar, yaitu Desa Budaya dan Desa Preneur. Desa Budaya menitikberatkan pada pelestarian tradisi, seni, bahasa dan sastra Jawa, kuliner, serta arsitektur lokal.

Sementara itu, Desa Preneur berfokus pada penguatan kewirausahaan dan ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM. Integrasi kedua pilar tersebut diharapkan dapat menjaga identitas budaya sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari potensi lokal.

Melalui rangkaian Hari Jadi ke-80, Kalurahan Margomulyo berupaya memperkuat kebersamaan warga, melestarikan warisan budaya leluhur, dan memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat. Semangat tersebut diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam mewujudkan Margomulyo sebagai Kalurahan Mandiri Budaya.