SEYEGAN – Tradisi Wiwit Panen Raya digelar Kelompok Tani Sarana Makmur Padukuhan Barak, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Rabu (3/9/2025). Acara yang berlangsung di Bulak Barak ini menjadi tanda dimulainya panen padi varietas Impari 32 di lahan seluas dua hektare.

Hadir dalam kegiatan ini antara lain Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Panewu Seyegan, Danramil Seyegan, Kepala BP4 Wilayah 3, perwakilan BMT Beringharjo, Lurah dan pamong Margoluwih, Babinkamtibmas, serta anggota Poktan Sarana Makmur. Prosesi wiwit diawali dengan pemotongan padi pertama dan pemotongan tumpeng oleh Panewu Seyegan, Agung Endarta, S.Sos., M.Si., yang kemudian diserahkan kepada Ketua Kelompok Tani.

Dalam sambutannya, Agung menegaskan bahwa tradisi wiwit adalah ungkapan syukur atas hasil panen yang berhasil diraih. “Kegiatan PUPM ini memberi nilai lebih dalam mendukung program pemerintah tentang ketahanan pangan yang berimbas pada kesejahteraan petani,” ujarnya. Sekolah Lapang (SL) yang didanai dari Pagu Usulan Partisipasi Masyarakat (PUPM) Kapanewon Seyegan dinilai berhasil, karena produktivitas mencapai 6,9 ton/Ha bahkan di lokasi lain tembus 7,2 ton/Ha. Angka ini melampaui rata-rata produktivitas Sleman sebesar 6,4 ton/Ha.

Sarbini, Ketua Poktan Sarana Makmur, menjelaskan bahwa budidaya yang dilakukan belum sepenuhnya organik, melainkan “Padi Sehat” dengan sistem semi organik. Penggunaan pupuk kimia sudah berkurang dan sebagian diganti pupuk organik hasil hibah BMT Beringharjo. Sistem tanam jajar legowo dan pendampingan intensif juga diterapkan, termasuk pengendalian hama burung emprit dan keong.

Dinas Pertanian Sleman melalui Nunung Nur Komariyah menyampaikan apresiasi atas capaian produktivitas tersebut. Menurutnya, hasil baik ini wajar karena adanya pendampingan rutin dalam program sekolah lapang. “Ke depan, kebutuhan irigasi di Bulak Barak bisa diusulkan lewat PUPM, pokir dewan, bahkan APBN,” jelasnya menanggapi persoalan keterbatasan air yang masih dihadapi lahan ini.

Sementara itu, Kepala BP4 Wilayah 3 Seyegan, Nurhayati, memberikan arahan pengendalian hama dengan metode sederhana seperti jaring dan peluit untuk burung emprit, serta penggunaan obat untuk keong. Ia juga mengusulkan agar ke depan ada kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) khusus bagi petani.

Tradisi Wiwit Panen Raya di Bulak Barak Margoluwih ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong, dukungan pendampingan, dan kolaborasi dengan lembaga keuangan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga nilai budaya syukur masyarakat agraris.