Seyegan – KPSPAM Banyu Panguripan Padukuhan Sawahan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, berhasil menemukan solusi atas persoalan kualitas air yang selama bertahun-tahun mengandung zat besi atau Fe. Pengurus membangun sumur bor baru dengan menyasar lapisan akuifer yang lebih dangkal untuk menghadirkan sumber air yang lebih layak bagi masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan pada Desember 2025 setelah air dari sumur lama belum dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi. Selama kurang lebih tiga tahun, warga hanya menggunakan layanan air KPSPAM untuk kebutuhan nonkonsumsi, seperti menyiram tanaman, mengisi kolam, serta mencuci kendaraan.
Air dari sumur lama diketahui memiliki karakteristik warna dan bau yang berkaitan dengan kandungan zat besi. Kondisi tersebut membuat masyarakat belum dapat memanfaatkan air secara optimal untuk kebutuhan sehari-hari.
Untuk mengatasi persoalan itu, KPSPAM Banyu Panguripan mengambil langkah dengan membangun sumur bor baru di lokasi yang tidak jauh dari sumber sebelumnya. Sumur baru tersebut menyasar sumber air pada kedalaman sekitar 20 meter.
Pembangunan dilakukan menggunakan dana yang berasal dari iuran masyarakat. Biaya pembangunan sumur baru tersebut mencapai lebih dari Rp7 juta.
Setelah pembangunan selesai, sampel air kemudian diuji melalui pemeriksaan laboratorium yang difasilitasi Puskesmas Seyegan. Hasil pemeriksaan menunjukkan kualitas air dari sumber baru jauh lebih baik dibandingkan sumber sebelumnya.
Secara fisik, air terlihat memenuhi persyaratan dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Kehadiran sumber air baru tersebut juga kembali meningkatkan kepercayaan warga terhadap layanan KPSPAM Banyu Panguripan.
Kepercayaan masyarakat terhadap kualitas air baru terlihat dari meningkatnya permintaan Sambungan Rumah atau SR. Bahkan, dua warga memasang sambungan secara swadaya sebagai bentuk antusiasme terhadap layanan air bersih yang dikelola kelompok tersebut.
Pengurus KPSPAM menilai pembangunan sumur baru menjadi titik penting dalam perjalanan pengelolaan air bersih di Padukuhan Sawahan.
“Kami mencoba mencari solusi dengan membuat sumur baru yang lebih dangkal. Ternyata hasil airnya jauh lebih bagus dan masyarakat kembali memiliki harapan terhadap KPSPAM ini,” demikian semangat yang tercermin dari upaya pengurus dalam mencari solusi atas persoalan kualitas air.
Inovasi KPSPAM Banyu Panguripan tersebut kemudian mendapat perhatian Tim Juri Lomba Pengelolaan SPAM Perdesaan Tahun 2026. Tim juri melakukan kunjungan ke Padukuhan Sawahan pada Rabu (12/8/2026) untuk melihat langsung sistem pengelolaan air bersih yang dijalankan masyarakat.
Marwoto dari DPUPKP Kabupaten Sleman mengapresiasi langkah pengurus yang berani melakukan eksplorasi sumber air baru.
Menurutnya, keputusan membangun sumur baru terbukti menghasilkan kualitas air yang lebih baik. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan masih terdapat catatan pada aspek bakteriologis karena kandungan E. coli belum mencapai angka nol.
Untuk meningkatkan keamanan air, Marwoto menyarankan KPSPAM Banyu Panguripan menggunakan teknologi pengolahan sederhana berupa lampu ultraviolet atau UV.
Menurutnya, lampu UV sebaiknya dipasang pada tahap akhir pengolahan air. Sebelum melalui proses desinfeksi, air terlebih dahulu melewati penyaringan menggunakan filter sedimen dan karbon aktif.
“Lampu UV sebaiknya dipasang di titik akhir, setelah proses penyaringan, bukan di bak penampungan awal yang airnya masih mentah. Cara ini berdasarkan pengalaman di lapangan efektif untuk meniadakan bakteri coli,” jelasnya.
Persoalan kandungan zat besi memang menjadi salah satu tantangan dalam pemanfaatan air tanah. Air dapat terlihat jernih ketika baru dipompa, tetapi kemudian berubah menjadi kuning atau kecokelatan setelah mengalami kontak dengan udara.
Selain memengaruhi warna dan bau, kandungan Fe dapat menimbulkan kerak pada jaringan perpipaan serta meninggalkan noda kekuningan pada pakaian.
Karena itu, pembangunan sumur baru menjadi strategi penting bagi KPSPAM Banyu Panguripan untuk memperoleh sumber air dengan kualitas yang lebih baik.
Ketua Tim Juri, Haryadi, juga memberikan sejumlah catatan teknis untuk mendukung pengembangan layanan KPSPAM Banyu Panguripan.
Salah satu perhatian berkaitan dengan casing sumur baru yang saat ini menggunakan diameter 4 inci. Ukuran tersebut dinilai perlu menjadi pertimbangan apabila jumlah pelanggan terus bertambah dan kebutuhan kapasitas pompa meningkat.
Untuk pengembangan jangka panjang, penggunaan casing dengan diameter sekitar 6 hingga 8 inci dinilai dapat memberikan ruang lebih besar apabila kapasitas pompa perlu ditingkatkan.
“Kalau pelanggan terus bertambah dan ke depan membutuhkan kapasitas yang lebih besar, ukuran casing perlu dipertimbangkan sejak awal agar tidak menyulitkan ketika pompa harus diganti atau kapasitas ditingkatkan,” ujarnya.
Selain aspek teknis, tim juri juga mendorong penguatan tata kelola kelembagaan. Pengurus disarankan memiliki peta jaringan layanan yang memuat lokasi sumur bor, reservoir, jalur perpipaan, titik Sambungan Rumah, serta data pelanggan.
Keterlibatan generasi muda dalam kepengurusan juga menjadi perhatian. Selain itu, penggunaan meteran air sebagai dasar penetapan tarif serta penanaman pohon di sekitar sumber air menjadi bagian dari rekomendasi untuk menjaga keberlanjutan layanan.
Langkah KPSPAM Banyu Panguripan membangun sumur baru menunjukkan bahwa persoalan kualitas air dapat diatasi melalui inovasi, keberanian mengambil keputusan, dukungan masyarakat, serta pengujian kualitas air secara berkelanjutan.
Dari sumber air baru tersebut, harapan masyarakat Padukuhan Sawahan untuk memperoleh layanan air bersih yang lebih aman dan berkualitas kini kembali mengalir.