Seyegan – SD Negeri Ngemplaksari, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, terus memperkuat identitas sekolah melalui branding Griya Winasis. Konsep tersebut dikembangkan sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman sekaligus membentuk peserta didik yang cerdas, berkarakter, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan.
Berada di tengah kawasan kebun dan persawahan, SD Negeri Ngemplaksari menghadapi tantangan tersendiri dalam menarik minat masyarakat. Letak sekolah yang relatif jauh dari permukiman, serta keberadaan sejumlah sekolah dasar di sekitarnya, membuat persaingan dalam penerimaan murid semakin terasa.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat sekolah berhenti berkembang. Pada tahun ajaran 2026/2027, SD Negeri Ngemplaksari memiliki 106 peserta didik dan terus membangun berbagai program untuk memperkuat kualitas pendidikan sekaligus memperkenalkan keunggulan sekolah kepada masyarakat.
Kepala SD Negeri Ngemplaksari, Bakir, S.Pd.SD., mengatakan Griya Winasis bukan sekadar slogan atau nama program. Branding tersebut menjadi arah pengembangan sekolah dalam menciptakan suasana pendidikan yang menyenangkan dan berorientasi pada pembentukan karakter.
“Griya Winasis mengandung arti rumah kedua yang nyaman dan asri, tempat untuk mendidik generasi anak desa yang cerdas, agamis, bijak, dan berkarakter mulia,” ujar Bakir saat ditemui di Sekolah (14/8/2026).
Dalam menjalankan konsep tersebut, SD Negeri Ngemplaksari membangun tiga pilar utama, yaitu lingkungan asri, pendidik berkualitas, dan kurikulum karakter.
Lingkungan asri diwujudkan melalui upaya menciptakan sekolah yang aman, sehat, bersih, dan indah. Sementara itu, dari sisi sumber daya manusia, sekolah terus mendorong hadirnya pendidik yang profesional dan mampu mengikuti perkembangan pendidikan.
Pilar berikutnya adalah kurikulum karakter. Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya diarahkan untuk mencapai prestasi akademik, tetapi juga dibiasakan menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep tersebut didukung melalui sistem pembelajaran semi full day, program pengembangan minat dan bakat, kegiatan pencetak prestasi, serta berbagai kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah kokurikuler yang dilaksanakan secara blok dan lintas mata pelajaran setiap hari Jumat.
Melalui kegiatan tersebut, siswa mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari olahraga, perlombaan, keterampilan, pengolahan sampah, hingga kegiatan pengembangan bahasa.
Kegiatan ini dirancang agar peserta didik tidak hanya memperoleh materi di dalam kelas. Mereka juga belajar bekerja sama, berkomunikasi, berpikir kritis, berkreasi, dan menyelesaikan persoalan melalui pengalaman langsung.
Penguatan karakter di SD Negeri Ngemplaksari juga dilakukan melalui pembiasaan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat atau bersosialisasi, serta tidur tepat waktu.
Sekolah berupaya menerjemahkan nilai tersebut ke dalam aktivitas yang dekat dengan kehidupan anak. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Program tersebut sekaligus mendukung pembentukan profil lulusan yang memiliki keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan kemampuan komunikasi.
Salah satu contoh penerapan pendidikan karakter dapat dilihat dari kegiatan pengelolaan sampah yang telah dijalankan sejak 2025.
Di depan setiap kelas, SD Negeri Ngemplaksari menyediakan kompartemen untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sampah anorganik kemudian dikumpulkan dan dijual kepada pengepul barang bekas.
Sementara itu, sampah organik dimanfaatkan untuk pembuatan kompos.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian terhadap lingkungan, serta pentingnya menjaga kebersihan.
Selain itu, sekolah juga menerapkan kantin kejujuran sebagai sarana pembelajaran karakter.
Makanan ringan titipan orang tua siswa disediakan di sejumlah titik. Siswa yang membeli kemudian menyerahkan pembayaran ke ruang guru. Sistem sederhana tersebut menjadi sarana untuk melatih kejujuran dan tanggung jawab sejak usia sekolah dasar.
Bakir mengatakan branding Griya Winasis juga menjadi strategi untuk memperkenalkan berbagai kegiatan dan keunggulan SD Negeri Ngemplaksari kepada masyarakat.
Menurutnya, penguatan identitas sekolah diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap minat masyarakat dalam Sistem Penerimaan Murid Baru atau SPMB.
Karena itu, seluruh guru didorong untuk turut memperkenalkan kegiatan sekolah melalui media sosial.
“Kami meminta guru-guru untuk ikut memviralkan kegiatan yang ada di SD Negeri Ngemplaksari melalui media sosial,” katanya.
Melalui Griya Winasis, SD Negeri Ngemplaksari ingin membangun citra sebagai rumah kedua bagi peserta didik. Sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk tumbuh, belajar, berinteraksi, dan membangun karakter.
Di tengah tantangan geografis dan persaingan antar sekolah, SD Negeri Ngemplaksari terus berupaya menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
Dengan lingkungan yang asri, pendidik yang berkualitas, serta pendidikan karakter yang diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, Griya Winasis menjadi ikhtiar sekolah dalam menyiapkan generasi yang cerdas, agamis, mandiri, kreatif, sehat, mampu bekerja sama, dan berkarakter mulia.
