Seyegan – Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kapanewon Seyegan memberikan pendampingan kepada Bank Sampah Margo Asri di RT 07 RW 19, Padukuhan Tegal Gentan, Somorai VI, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Pendampingan dilakukan untuk memperkuat pemahaman warga mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari tingkat rumah tangga.

Kegiatan berlangsung dalam pertemuan selapanan pada Minggu Kliwon, 16 Agustus 2026. Pertemuan tersebut menggabungkan kegiatan rutin ibu-ibu RT 07, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan kelompok Bank Sampah Margo Asri yang baru saja dibentuk.

P3S Kapanewon Seyegan, Sutarto Agus, menyampaikan materi tentang pemilahan sampah dan pengelolaan sampah organik. Ia menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sistem pengangkutan sampah dengan mengoptimalkan pengelolaan dari sumbernya.

Menurut Sutarto, sampah organik sebenarnya dapat diselesaikan di tingkat rumah tangga apabila masyarakat memahami metode pengolahan yang sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing.

“Harapannya, sampah organik juga bisa terkelola dengan baik dan selesai di tingkat rumah tangga. Tidak semua sampah harus dibawa keluar rumah jika sejak awal sudah bisa kita kelola dengan cara yang tepat,” ujarnya.

Dalam pendampingan tersebut, peserta diperkenalkan dengan sejumlah metode pengolahan sampah organik. Metode yang disampaikan meliputi biopori, biopot, losida, komposter, dan jugangan.

Berbagai metode tersebut dinilai dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mengolah sampah organik rumah tangga. Warga dapat memilih metode sesuai dengan ketersediaan lahan, jenis sampah, serta kebutuhan masing-masing.

Selain pengelolaan sampah organik, Bank Sampah Margo Asri juga mendapat pendampingan terkait pemilahan sampah anorganik. Dalam kegiatan itu, P3S Seyegan menghadirkan pelapak sampah, Agung Mujihartono, yang diharapkan dapat menjadi mitra kelompok dalam menyalurkan sampah hasil pemilahan.

Agung memberikan penjelasan mengenai jenis-jenis sampah yang memiliki nilai ekonomi. Ia juga membagikan katalog berisi klasifikasi sampah serta informasi harga beli sebagai panduan awal bagi warga dan pengelola bank sampah.

Menurutnya, pemilahan yang dilakukan secara lebih rinci akan membantu meningkatkan nilai jual sampah. Selain itu, sampah yang telah dipisahkan sejak dari rumah akan memudahkan proses penimbangan dan penjualan.

“Dengan mengetahui jenis sampah yang laku dan cara memilahnya, warga bisa lebih mudah memisahkan sampah sejak dari rumah. Sampah yang sudah terpilah dengan baik tentu lebih mudah untuk dijual,” kata Agung.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pemilahan sampah. Peserta secara langsung memisahkan berbagai jenis sampah sesuai kategorinya, kemudian melakukan penimbangan terhadap sampah yang telah dipilah.

Praktik tersebut menjadi bagian penting dalam pendampingan agar peserta tidak hanya memahami konsep pemilahan secara teori, tetapi juga mengetahui cara menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari.

Pendampingan P3S Seyegan diharapkan dapat memperkuat keberadaan Bank Sampah Margo Asri sebagai wadah pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kelompok ini juga diharapkan mampu menarik lebih banyak warga untuk menjadi nasabah.

Agung berharap pertumbuhan jumlah nasabah dapat mendukung kegiatan pengumpulan sampah secara rutin. Jika volume sampah yang terkumpul semakin banyak, penjualan kepada pelapak dapat dilakukan secara berkala.

“Kalau jumlah nasabahnya terus berkembang, harapannya penjualan sampah bisa dilakukan satu bulan sekali. Dengan begitu, kegiatan bank sampah bisa berjalan rutin dan manfaat ekonominya juga semakin terasa bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui edukasi, praktik pemilahan, pengelolaan sampah organik, dan dukungan jaringan pelapak, Bank Sampah Margo Asri diharapkan berkembang menjadi penggerak perubahan perilaku masyarakat.

Pengelolaan sampah tidak lagi hanya berfokus pada pengangkutan dan pembuangan. Sebaliknya, warga didorong untuk mulai memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah sejak dari rumah.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus mengurangi jumlah sampah yang harus dibawa keluar dari lingkungan permukiman.