Seyegan – Pengolahan sampah organik Seyegan menjadi fokus pelatihan yang digelar Pendamping Pengelolaan Persampahan (P3S) Seyegan di Joglo Kerto Darmo, Klaci II, Margoluwih, Seyegan, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 30 perwakilan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) dari Kalurahan Margodadi, Margokaton, dan Margoluwih.
Pelatihan tersebut bertujuan mendorong masyarakat mengolah sampah organik langsung dari sumbernya. Peserta diperkenalkan dengan berbagai teknologi tepat guna yang relatif sederhana dan dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing.
Sampah organik rumah tangga, seperti sisa makanan, kulit buah, dan sampah kebun, masih kerap bercampur dengan sampah anorganik serta residu. Akibatnya, sampah tersebut ikut terbawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA), padahal sebagian dapat diolah secara mandiri.
Pengelolaan sejak dari rumah diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah yang harus diangkut ke TPA. Upaya ini sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat agar terbiasa memilah dan mengolah sampah secara bertanggung jawab.
Suminah dari P3S Kalurahan Margoluwih menjelaskan bahwa pengolahan sampah organik tidak selalu membutuhkan teknologi rumit atau biaya besar. Masyarakat dapat memilih metode yang sesuai dengan ketersediaan lahan dan kebutuhan rumah tangga.
“Pengolahan sampah organik dengan teknologi tepat guna bisa dilakukan dengan banyak cara yang bukan saja mudah, tetapi juga murah,” ujar Suminah.
Salah satu metode yang diperkenalkan ialah jugangan, yaitu lubang yang dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik. Metode ini dapat diterapkan di lingkungan padukuhan dengan menyesuaikan kebutuhan lahan dan kondisi setempat.
Peserta juga diperkenalkan dengan biopori. Selain membantu pengolahan sampah organik, biopori dapat mendukung peresapan air hujan ke dalam tanah.
“Biopori bukan hanya untuk mengolah sampah. Fungsinya juga bisa untuk memanen air hujan sehingga air dapat tersimpan dan menjadi cadangan untuk masa depan,” jelas Suminah.
Alternatif berikutnya adalah biopot. Metode ini memiliki konsep serupa dengan biopori, tetapi menggunakan pot bunga sehingga dapat disesuaikan dengan lahan terbatas. Sampah organik yang dimasukkan ke dalamnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman.
Pelatihan juga mengenalkan losida atau lodong sisa dapur. Sarana ini dapat ditempatkan di lingkungan rumah maupun fasilitas umum, seperti halaman masjid dan balai pertemuan.
Selain itu, peserta mendapat materi tentang komposter skala rumah tangga. Suminah menjelaskan konstruksi, fungsi, dan manfaat komposter sebagai pilihan untuk mengolah sampah organik secara mandiri.
Pelatihan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi. Peserta juga mendapatkan pengalaman praktik melalui tayangan video yang memperlihatkan berbagai metode pengolahan sampah organik.
Melalui kegiatan ini, KPSM didorong memperluas perannya dalam pengelolaan sampah. Kelompok tidak hanya menangani sampah anorganik yang memiliki nilai jual, tetapi juga membantu masyarakat mengurangi sampah organik yang selama ini kerap menjadi persoalan lingkungan.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan di rumah masing-masing dan dikembangkan melalui kegiatan KPSM di tiga kalurahan peserta. Dengan demikian, pengolahan sampah organik dapat menjadi kebiasaan bersama, bukan hanya kegiatan sesaat setelah pelatihan.
Pemilahan sampah menjadi langkah awal yang penting. Setelah dipisahkan, sampah organik dapat diolah menggunakan metode yang sesuai, sedangkan sampah anorganik dapat dikelola melalui jalur pemanfaatan atau daur ulang.
Penerapan teknologi tepat guna juga memberikan peluang pemanfaatan hasil olahan untuk kebutuhan lingkungan. Dalam pengembangan lebih lanjut, produk tertentu berpotensi memiliki nilai ekonomi apabila kualitas, keamanan, dan cara penggunaannya diperhatikan.
Melalui pelatihan pengolahan sampah organik Seyegan, P3S mendorong masyarakat memulai perubahan dari lingkungan terdekat. Pengurangan sampah yang dikirim ke TPA tidak hanya bergantung pada fasilitas pengolahan, tetapi juga pada kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah.
Dengan metode yang sederhana dan sesuai kondisi setempat, sampah organik diharapkan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai limbah. Sampah yang dikelola dengan tepat dapat menjadi sumber manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
