Seyegan – Sebanyak 45 mahasiswa Institut Pertanian (Instiper) Yogyakarta yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Budidaya Pertanian (Imadata) mengikuti Tur Praktisi di Joglo Tani, Mandungan 1, Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Minggu (6/7/2025). Kegiatan bertema “Peningkatan Kaderisasi Demi Terwujudnya Keprofesian di Era Transformasi Digitalisasi” ini bertujuan membekali mahasiswa semester 3 dengan wawasan pertanian terpadu.
Menurut Ketua Panitia, Sahetapi Siregar, tur ini memberi pengalaman lapangan mengenai integrasi pertanian, perikanan, dan peternakan. Sementara Ketua Imadata, J Marbun, menambahkan bahwa meski mayoritas mahasiswa fokus pada budidaya kelapa sawit, kunjungan ini penting untuk memahami konsep pertanian berkelanjutan.
Materi utama disampaikan oleh TO Suprapto, founder Joglo Tani. Ia menjelaskan empat tahapan ketahanan nasional: ketahanan pangan, kemandirian pangan, kedaulatan pangan, dan kedaulatan ekonomi. “Ketahanan pangan hanya membuat masyarakat pasif konsumtif. Sebaliknya, kemandirian pangan mendorong masyarakat aktif dan produktif,” kata Suprapto.
Suprapto menekankan pentingnya kreativitas dan inovasi dalam kedaulatan pangan, seperti yang dilakukan Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan prinsip menanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam. Selain itu, ia menjelaskan prinsip pertanian terpadu yang menggabungkan tanaman, ternak, dan perikanan dalam satu kawasan.
Dalam sesi wirausaha, Suprapto menjabarkan empat unit usaha yang dapat dikembangkan mahasiswa: pembibitan, produksi, pasca panen, dan jasa pemasaran. Ia juga mengingatkan pentingnya lima prinsip usaha, yaitu niat, berkarya, jujur, ibadah, dan ikhlas, serta modal seperti perubahan sikap, keterampilan, dan sarana.
Setelah materi, mahasiswa mengikuti praktek langsung seperti olah tanah, penanaman, serta mengamati peternakan ayam, bebek, budidaya ikan, dan pembuatan pupuk organik.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mempraktikkan pertanian terpadu yang berkelanjutan, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan perekonomian lokal di Kapanewon Seyegan. Tur praktisi ini juga menjadi agenda rutin Instiper untuk mendekatkan teori kampus dengan kondisi lapangan.
