Seyegan — Di tengah halaman rumah yang rindang di Padukuhan Seyegan, Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, denting halus alat grafir berpadu dengan suasana tenang pedesaan. Dari ruang kerja sederhana itulah Mei Anjar Wintolo menekuni jalan sunyi sebagai pengrajin seni kriya logam dan kayu, sekaligus pegiat pelestarian bilah Nusantara.

Ditemui pada Senin (9/2/2026), Anjar—sapaan akrab pria kelahiran Bantul berusia 47 tahun ini—tampak larut dalam proses penyempurnaan bilah dekoratif yang tengah digarapnya. Bagi Anjar, bilah bukan sekadar benda fungsional, tetapi juga medium ekspresi sejarah, filosofi, dan identitas budaya Nusantara.

Selain dikenal sebagai pengrajin, Anjar juga merupakan aktivis sejarah dan cagar budaya yang tergabung dalam Komunitas Kandang Kebo. Ia kerap menjadi narasumber diskusi kesejarahan serta aktif dalam berbagai kegiatan edukasi budaya. Latar belakang tersebut memengaruhi kuat karakter karya-karyanya yang sarat makna simbolik.

Dalam proses pembuatan bilah, Anjar memadukan teknik manual dan peralatan mesin. Beragam alat seperti pahat, palu, kikir, hingga mesin gerinda dan grafir tersusun rapi di ruang kerjanya. Tak hanya logam, ia juga sangat selektif dalam memilih kayu untuk gagang dan warangka, mulai dari johar, nangka, mlanding lokal, hingga kayu langka seperti lotrok yang dipercaya memiliki nilai filosofis tersendiri.

“Setiap kayu punya karakter dan cerita. Bilah Nusantara selalu lahir dari hubungan manusia dengan alam,” ungkap Anjar.

Waktu pengerjaan setiap bilah bervariasi. Untuk bilah kecil seperti cundrik atau pangot, prosesnya memakan waktu sekitar tiga hari. Sementara bilah berukuran besar seperti golok, pedang, atau tombak dapat dikerjakan hingga sepuluh hari, tergantung tingkat detail dan kompleksitas.

Keunikan lain dari karya Anjar terletak pada konsistensinya menggunakan istilah lokal Nusantara seperti kudi, wedhung, sabet, badik, hingga caluk. Dalam pemasaran, ia memilih jalur sederhana dengan melelang karyanya melalui media sosial, terutama Facebook, yang justru memperluas jangkauan peminat dari berbagai daerah.

Motivasi utama Anjar adalah kegelisahan melihat generasi muda yang semakin mengagumi bilah luar negeri dan melupakan warisan sendiri. Menurutnya, bilah Nusantara bukan sekadar artefak, melainkan identitas yang harus dirawat bersama.

Dari Seyegan, Anjar terus berkarya, merawat ingatan, dan menjaga agar bilah Nusantara tetap memiliki tempat di tanah kelahirannya.