Seyegan – Pokja IV PKK Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan sampah berbasis lingkungan guna memperkuat keberlanjutan program pengurangan sampah di tingkat padukuhan. Upaya tersebut mengemuka dalam dialog pengelolaan sampah yang digelar di Gedung Serbaguna Kalurahan Margomulyo, Minggu (10/5/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 40 anggota Pokja IV PKK dari 13 padukuhan itu menghadirkan narasumber sekaligus Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S), Sutarto Agus. Dialog tersebut membahas penguatan kelembagaan pengelolaan sampah serta pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.
Ibu Lurah Margomulyo sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK, Sri Lestari, secara khusus meminta agar edukasi pengelolaan sampah rumah tangga menjadi fokus utama kegiatan. Menurutnya, persoalan sampah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat mulai dari tingkat keluarga hingga padukuhan.
Dalam paparannya, Sutarto Agus menjelaskan bahwa keberadaan P3S di setiap wilayah telah memiliki dasar hukum melalui Surat Keputusan Kepala DLH Kabupaten Sleman Nomor 23/Kep.Ka.DLH/2026.
“P3S hadir bukan hanya untuk menyampaikan aturan, tetapi mendampingi masyarakat agar mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tugas utama P3S mencakup edukasi, pendampingan, serta penguatan perilaku masyarakat terkait pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Menurutnya, masyarakat perlu mengubah pola pikir dari sekadar membuang sampah menjadi memilah, mengurangi, dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.
Selain memberikan sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik, P3S juga melakukan pelatihan teknis seperti pembuatan kompos serta pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah, sedekah sampah, dan sistem daur ulang lainnya.
“Partisipasi warga menjadi kunci utama. Jika pengelolaan sampah dilakukan dari lingkungan masing-masing, maka beban sampah menuju TPST bisa ditekan secara signifikan,” kata Sutarto.
Kalurahan Margomulyo sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang cukup aktif dalam pengembangan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Di wilayah tersebut telah tersedia TPS3R, depo transfer sampah, serta sedikitnya delapan bank sampah dan sedekah sampah yang dibentuk atas inisiatif warga.
Namun demikian, sejumlah fasilitas dan kelembagaan pengelolaan sampah saat ini mulai mengalami penurunan aktivitas. Beberapa Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) diketahui vakum dan belum berjalan optimal akibat minimnya regenerasi pengurus serta rendahnya keterlibatan generasi muda.
Kondisi tersebut mendorong Pokja IV PKK Margomulyo melakukan penyegaran kelembagaan dengan melibatkan kalangan muda agar pengelolaan sampah lebih inovatif dan mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Dalam forum tersebut, Sutarto juga meminta dukungan penuh dari pemerintah kalurahan untuk memperkuat efektivitas pengelolaan sampah. Dukungan tersebut meliputi perubahan kepengurusan KPSM dengan melibatkan generasi muda, penguatan program kerja P3S, hingga monitoring dan evaluasi sarana prasarana hibah dari DLH Sleman.
Peserta dialog juga diajak mencermati hasil pemetaan KPSM di 13 padukuhan. Hasil pemetaan menunjukkan masih terdapat sejumlah wilayah yang belum memiliki KPSM aktif sehingga membutuhkan strategi pendampingan dan pembentukan kelembagaan baru.
Dalam sesi diskusi, berbagai persoalan pengelolaan sampah turut disampaikan peserta, mulai dari minimnya dukungan tingkat RT/RW dan kalurahan, rendahnya minat masyarakat terhadap bank sampah, belum optimalnya pemilahan sampah rumah tangga, hingga masih maraknya praktik pembakaran dan pembuangan sampah sembarangan.
“Tantangan terbesar saat ini adalah membangun kesadaran bersama bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat,” pungkas Sutarto.
Melalui penguatan peran KPSM dan pendampingan P3S, masyarakat Kalurahan Margomulyo diharapkan mampu membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik demi menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
