Seyegan – Bumkal Usaha Mulia Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, mulai menjajaki bisnis pengelolaan sampah sebagai salah satu peluang unit usaha baru yang dinilai memiliki prospek ekonomi sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat. Langkah awal dilakukan melalui kunjungan belajar ke Bank Sampah Induk (BSI) Surya Mulya di Gancahan Kulon, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Rabu (20/5/2026).

Kunjungan tersebut diikuti jajaran pengurus Bumkal Usaha Mulia, meliputi direktur, sekretaris, hingga pengawas. Mereka melakukan studi lapangan untuk mempelajari tata kelola usaha persampahan yang dapat diterapkan di Kalurahan Margomulyo.

Direktur Bumkal Usaha Mulia Margomulyo, Agung Mujihartono, mengatakan pihaknya tengah mencari peluang usaha baru yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung penyelesaian persoalan lingkungan.

“Kami tertarik memulai usaha pengelolaan sampah, tetapi tahap awal akan dimulai dari yang sederhana terlebih dahulu. Keterbatasan sumber daya, belum adanya tempat usaha, serta kebutuhan investasi mesin menjadi pertimbangan utama,” ujar Agung saat kunjungan berlangsung.

Dalam kegiatan tersebut, pengurus Bumkal memperoleh berbagai materi mengenai model bisnis pengelolaan sampah dari owner BSI Surya Mulya, Farid Fakhrudin. Menurut Farid, sektor persampahan memiliki peluang usaha yang cukup luas jika dikelola secara konsisten dan terorganisir.

Ia menjelaskan, jenis usaha pengelolaan sampah dapat dimulai dari skala kecil seperti pemilahan sampah anorganik bernilai jual, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga pengembangan budidaya magot dan kerja sama dengan pelapak material daur ulang.

“Jenis usaha yang bisa dijalankan sangat beragam, mulai dari pengolahan sampah organik menjadi kompos, pemilahan sampah daur ulang, hingga kerja sama dengan pelapak sebagai pembeli sampah terpilah,” jelas Farid.

Selain itu, Farid juga memperkenalkan sejumlah jenis sampah yang memiliki nilai ekonomis tinggi, termasuk minyak jelantah yang saat ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Ia bahkan menyatakan kesiapan BSI Surya Mulya untuk menjadi mitra pelapak apabila Bumkal Margomulyo serius mengembangkan usaha tersebut.

Ketertarikan Bumkal Usaha Mulia terhadap bisnis pengelolaan sampah tidak terlepas dari kondisi di Kalurahan Margomulyo yang dinilai memiliki potensi cukup besar. Wilayah tersebut telah memiliki fasilitas persampahan berupa TPS3R dan depo transfer sampah, meskipun pengelolaannya saat ini belum berjalan maksimal.

Di sisi lain, sedikitnya tujuh bank sampah dan sedekah sampah yang tersebar di sejumlah padukuhan dinilai dapat menjadi mitra strategis dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Pengawas Bumkal Usaha Mulia, Sutarto Agus, menilai kolaborasi dengan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) dapat menjadi model bisnis yang saling menguntungkan.

“Dengan sistem jemput bola sampah, KPSM tentu akan lebih diuntungkan dalam penjualan sampahnya. Ini bisa menjadi pola kerja sama yang saling menguntungkan,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Bumkal Usaha Mulia, Joko Astono, menekankan pentingnya data harga sampah sebagai acuan bisnis. Menurutnya, katalog jenis sampah beserta kisaran nilai jual akan sangat membantu dalam menyusun skema usaha jual beli rosok di tingkat kalurahan.

“Katalog harga sampah sangat penting sebagai acuan bagi Bumkal untuk mulai menjalankan bisnis jual-beli rosok bersama KPSM,” ungkap Joko.

Melalui kunjungan belajar ini, Bumkal Usaha Mulia berharap memperoleh gambaran lebih jelas mengenai sistem pengelolaan usaha sampah yang profesional, terukur, dan berkelanjutan.

Selain membuka peluang ekonomi baru, pengembangan usaha persampahan juga diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi volume sampah rumah tangga di Kalurahan Margomulyo sekaligus memperkuat gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

Ke depan, hasil studi tiru ini akan menjadi bahan kajian internal Bumkal sebelum memutuskan model unit usaha yang paling realistis diterapkan di wilayah Margomulyo. Dengan dukungan masyarakat, KPSM, dan pemerintah kalurahan, bisnis pengelolaan sampah diyakini dapat menjadi sektor usaha baru yang produktif sekaligus ramah lingkungan.