Seyegan – Pemerintah Kalurahan Margomulyo menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat penurunan stunting meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Komitmen itu ditegaskan dalam Rembug Stunting yang digelar bersamaan dengan Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Gedung Serbaguna Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan ini menjadi forum penting untuk mengevaluasi pelaksanaan program tahun sebelumnya sekaligus menyusun langkah strategis penanganan stunting pada tahun berjalan. Rapat dihadiri Ketua TPPS beserta jajaran pengurus, pamong kalurahan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Pendamping Desa, PLKB Seyegan, perwakilan BPKal, Ketua KIM, Tim Penggerak PKK Margomulyo, serta sekitar 60 peserta dari unsur kader dan para dukuh.
Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyanto, menegaskan bahwa program percepatan penurunan stunting tetap menjadi prioritas pemerintah kalurahan, meskipun kondisi keuangan sedang mengalami penyesuaian akibat efisiensi anggaran.
“Program penurunan stunting merupakan amanat pemerintah sekaligus program kesehatan yang wajib dilaksanakan. Walaupun saat ini ada efisiensi anggaran, kegiatan percepatan penurunan stunting tetap masuk skala prioritas,” kata Eko dalam sambutannya.
Menurutnya, rembug stunting tidak sekadar menjadi forum seremonial, tetapi harus mampu menghasilkan rumusan intervensi yang tepat sasaran. Evaluasi program tahun 2025 dinilai penting untuk melihat efektivitas kegiatan yang telah berjalan sekaligus menentukan langkah prioritas pada 2026.
“Melalui rembug stunting ini kita evaluasi kegiatan tahun 2025 sekaligus merencanakan langkah prioritas penanganan kasus stunting. Implementasinya memang tidak mudah, sehingga perlu terobosan kegiatan yang benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Eko menambahkan, faktor determinan atau penyebab utama stunting harus menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan. Dengan begitu, program intervensi yang dijalankan tidak hanya bersifat umum, tetapi benar-benar menyasar akar persoalan di lapangan.
Dalam forum tersebut, Penanggung Jawab Program Gizi Puskesmas Seyegan, Beti Nur Utami, memaparkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Balita Tahun 2025. Pemantauan dilakukan terhadap 2.316 balita dengan sejumlah indikator status gizi, seperti berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), serta indikator lainnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Kapanewon Seyegan menempati peringkat ketiga prevalensi stunting di Kabupaten Sleman pada 2026. Untuk wilayah kerja Puskesmas Seyegan, dari 621 balita usia 0–59 bulan yang dipantau pada 2025, tercatat 38 balita kategori stunted dan 35 balita stunting, dengan prevalensi mencapai 5,64 persen. Secara keseluruhan, jumlah balita stunting di Kapanewon Seyegan mencapai 139 balita dengan prevalensi 6 persen.
Beti menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang masih menjadi penyebab dominan stunting di wilayah Seyegan. Di antaranya adalah asupan gizi yang tidak adekuat/cukup, paparan asap rokok, serta kehamilan yang tidak direncanakan. Faktor-faktor tersebut dinilai berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak sejak masa kehamilan hingga usia balita.
Sebagai tindak lanjut, Puskesmas Seyegan telah menyiapkan sejumlah Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL). Program tersebut meliputi pemantauan status gizi balita, validasi data balita, pemberian vitamin A, pemantauan ASI dan MPASI, pemberian makanan tambahan (PMT), hingga pendampingan pertumbuhan balita di posyandu.
Di akhir pemaparannya, Beti mengajak seluruh unsur masyarakat untuk menguatkan gerakan “Cegah Stunting itu Penting” melalui langkah ABCDE. Gerakan itu meliputi Aktif minum tablet tambah darah, Bumil teratur memeriksakan kehamilan, Cukup konsumsi protein hewani, Datang ke Posyandu setiap bulan, dan Eksklusif ASI 6 bulan.
“Pencegahan stunting harus dilakukan bersama-sama melalui tindakan nyata dan konsisten. ABCDE menjadi langkah sederhana namun sangat penting untuk mencegah stunting sejak dini,” tegas Beti.
Melalui rembug stunting ini, Pemerintah Kalurahan Margomulyo menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting tidak boleh terhambat oleh keterbatasan anggaran. Sinergi antara pemerintah kalurahan, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk menekan prevalensi stunting dan mewujudkan generasi yang lebih sehat di masa mendatang.
