Seyegan – Posyandu APEL PMA Jamblangan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, mendapat kesempatan terlibat dalam pengembangan inovasi kesehatan yang akan dibawa ke Asia-Pacific Global Health Innovation Hackathon 2026 di Singapura.
Ajang inovasi kesehatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 18–19 September 2026. Kompetisi yang memasuki tahun kedua ini diselenggarakan bersama SingHealth Duke-NUS Academic Medical Centre melalui AMII dan SDGHI serta International Collaboration Office (ICO).
Dalam kompetisi tersebut, peserta ditantang mengembangkan solusi atas berbagai persoalan kesehatan. Salah satu tema yang diangkat tahun ini adalah nutrisi ibu dan anak, termasuk praktik pemberian makan bagi bayi baru lahir, bayi, dan anak usia dini.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan tim yang dipimpin Prof. Dr. Tri Siswati dari Poltekkes Kemenkes Yogyakarta bersama peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bunga Astria Paramashanti, dengan mengunjungi kegiatan Posyandu ILP di Posyandu APEL PMA Jamblangan, Minggu (9/8/2026).
Kunjungan dilakukan untuk menggali kondisi dan kebutuhan masyarakat secara langsung. Tim juga berdiskusi dengan kader kesehatan untuk mendapatkan masukan mengenai persoalan yang dihadapi dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada keluarga.
Data serta pengalaman dari lapangan tersebut akan menjadi bahan dalam pengembangan alat bantu berbasis aplikasi. Inovasi tersebut nantinya akan dipresentasikan dalam ajang hackathon di Singapura.
Bunga Astria Paramashanti mengatakan tim memilih tantangan mengenai praktik pemberian makan pada bayi baru lahir, bayi, dan anak kecil. Fokus tersebut dipilih karena masih terdapat kesenjangan dalam praktik pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI), terutama selama dua tahun pertama kehidupan.
“Tema yang kami pilih adalah pemberian makan pada bayi baru lahir, bayi dan anak kecil. Kami ingin melihat kesenjangan yang masih terjadi dalam praktik pemberian ASI dan makanan pendamping selama dua tahun pertama kehidupan,” jelas Bunga.
Menurut Bunga, periode 0–24 bulan merupakan masa penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, praktik pemberian ASI dan MPASI perlu dilakukan sesuai kebutuhan dan rekomendasi agar anak memperoleh asupan yang mendukung tumbuh kembangnya.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting di masyarakat yang memiliki keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan. Kondisi itu mendorong perlunya alat bantu yang dapat digunakan kader saat memberikan konseling kepada orang tua.
“Pemberian ASI dan MPASI yang tidak sesuai dengan rekomendasi dapat menghambat perkembangan anak, terutama di komunitas terpencil. Karena itu, kami membutuhkan solusi yang bisa membantu petugas kesehatan masyarakat, khususnya kader, agar lebih mudah memberikan konseling dan edukasi kepada keluarga,” lanjutnya.
Posyandu APEL Jamblangan menjadi salah satu lokasi untuk menggali pengalaman langsung kader dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pendekatan tersebut dilakukan agar inovasi yang dikembangkan tidak hanya memiliki konsep yang baik, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Aplikasi yang tengah dikembangkan diarahkan untuk memperkuat peran kader Posyandu dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada orang tua. Materi yang disiapkan mencakup informasi mengenai ASI, MPASI, tumbuh kembang, gizi, serta layanan kesehatan dan perlindungan anak.
Inovasi tersebut juga diarahkan untuk mengintegrasikan unsur konseling, pendidikan gizi yang sensitif terhadap budaya masyarakat, serta kampanye sosial dan komunikasi kesehatan.
“Harapannya, inovasi ini bukan sekadar aplikasi, tetapi menjadi alat bantu bagi kader di Posyandu dalam mendampingi ibu dan keluarga. Dengan begitu, informasi mengenai pemberian makan yang tepat bisa lebih mudah dipahami dan diterapkan,” ujar Bunga.
Menurutnya, kader Posyandu memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan ibu, bayi, dan keluarga. Kedekatan tersebut menjadi modal penting untuk menyampaikan edukasi kesehatan secara lebih mudah dipahami masyarakat.
Dalam pengembangan inovasi, praktik pemberian makan anak usia 0–24 bulan menjadi salah satu fokus utama. Tahap pertama adalah usia 0–6 bulan dengan pemberian ASI eksklusif. Selanjutnya, usia 6–12 bulan merupakan masa pengenalan MPASI untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi yang semakin meningkat.
Pada usia 12–24 bulan, anak mulai bertransisi mengonsumsi makanan keluarga dengan penyesuaian terhadap kebutuhan dan kemampuan anak. Ketiga tahapan tersebut akan diterjemahkan menjadi materi dan alat bantu digital yang dapat digunakan kader saat melakukan pendampingan.
Kunjungan ke Posyandu APEL Jamblangan menjadi bagian dari proses penyempurnaan inovasi. Masukan kader dan pengalaman pelayanan Posyandu ILP digunakan untuk merancang aplikasi yang sederhana, mudah digunakan, dan sesuai dengan kondisi masyarakat.
Selanjutnya, inovasi tersebut akan dipertemukan dengan berbagai gagasan dari negara-negara kawasan Asia-Pasifik melalui Asia-Pacific Global Health Innovation Hackathon 2026 di Singapura.
Bagi Posyandu APEL PMA Jamblangan, keterlibatan dalam pengembangan inovasi tersebut menunjukkan bahwa gagasan kesehatan dapat tumbuh dari tingkat masyarakat. Pengalaman kader dan kebutuhan warga di tingkat Posyandu dapat menjadi bahan pengembangan solusi yang berpotensi digunakan secara lebih luas.
“Yang paling penting adalah bagaimana kebutuhan nyata di masyarakat bisa diterjemahkan menjadi sebuah inovasi yang bermanfaat. Kami berharap aplikasi ini nantinya benar-benar membantu kader dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi ibu dan anak,” pungkas Bunga.
