SEYEGAN – Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, menjadi yang pertama di wilayah Seyegan yang menyelenggarakan Musyawarah Kalurahan (Muskal) Pemutakhiran Data Kemiskinan Kalurahan tahun 2025. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (21/10/2025) di Gedung Serbaguna Margomulyo ini dihadiri oleh unsur TKSK, TPSK, TPK Kalurahan, Pamong Kalurahan, Babinsa/Babinkamtibmas, serta menghadirkan narasumber dari Dinas Sosial Kabupaten Sleman dan Kawat Sosial Kapanewon Seyegan.
Muskal dipimpin oleh Supriyadi, S.H., Ketua BPKal Margomulyo, yang membuka jalannya musyawarah dengan agenda utama verifikasi dan validasi data kemiskinan di masing-masing padukuhan.
“Muskal kali ini merupakan Muskal semester dua, dengan fokus utama pada pencermatan data kemiskinan untuk memastikan penerima bantuan tepat sasaran,” ujar Supriyadi.
Kegiatan ini bertujuan memperbaiki ketepatan data agar tidak ada lagi warga yang berhak tetapi tidak terdata, maupun warga yang tidak berhak namun masih menerima bantuan.
“Data yang diperoleh berasal dari aspirasi masyarakat, sehingga tingkat kevalidannya lebih tinggi,” tambahnya.
Tenaga Pendamping Sosial Kalurahan (TPSK) Margomulyo, Pristiana Hakim, memaparkan hasil pendataan mulai dari data kemiskinan 2020–2025 hingga usulan baru per padukuhan.
Sementara itu, Sarastomo Ari Saputro, S.Sos., M.AP., M.Agr.Sc., Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sleman, menegaskan bahwa Musduk dan Muskal merupakan bagian penting dari proses pemutakhiran data.
“Pemutakhiran data ini dilakukan secara periodik agar program penanggulangan kemiskinan tepat sasaran dan sesuai kondisi terkini masyarakat,” jelasnya.
Ari juga mengapresiasi hasil Muskal di Margomulyo yang mencatat 152 KK dicoret dan 40 KK diusulkan baru. Menurutnya, data hasil Muskal lebih representatif karena muncul dari partisipasi masyarakat, bukan semata pendataan administratif dari dinas.
Sementara itu, Kawat Sosial Kapanewon Seyegan, Subagyo Rahayu, menekankan pentingnya transparansi dan partisipasi masyarakat dalam forum Muskal.
“Melibatkan lurah, RT/RW, dan tokoh masyarakat akan meningkatkan keakuratan data. Data ini juga menjadi dasar bagi kebijakan pembangunan Kalurahan,” tuturnya.
Bagyo menambahkan bahwa berdasarkan SK Bupati Sleman 2024, angka kemiskinan di Kalurahan Margomulyo mencapai 11,70%, sedangkan di Kapanewon Seyegan sebesar 11,97%, dan Kabupaten Sleman 7,46%. Ia menegaskan pentingnya validasi lapangan agar data benar-benar menggambarkan kondisi nyata masyarakat.
Muskal ditutup dengan penandatanganan Berita Acara Pemutakhiran Data Kemiskinan Kalurahan Margomulyo tahun 2025, sebagai bentuk komitmen bersama untuk menghadirkan data yang akurat, transparan, dan berdampak nyata bagi penanggulangan kemiskinan di Kapanewon Seyegan.