Seyegan – Di tepi jalan kampung Padukuhan Beran, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, berdiri sebuah cerobong tua setinggi kurang lebih 12 meter. Bangunan itu tampak sederhana. Namun bagi warga Seyegan, cerobong tersebut menyimpan kisah panjang tentang geliat industri rakyat dan perubahan zaman yang tak terlupakan.
Cerobong itu merupakan bagian dari tobong genting yang dirintis pada 1964 oleh seorang perantau Tionghoa bernama Koh Ting. Saat itu, wilayah Beran dikenal sebagai sentra produksi genting yang cukup maju. Dua unit tobong dibangun dengan kapasitas masing-masing sekitar 5.000 genting setiap sekali bakar.
Berbeda dari pembakaran tradisional, proses produksi di Seyegan saat itu tergolong modern. Tidak menggunakan kayu bakar, melainkan kompor yang menyemprotkan residu solar.
“Pembakarannya tidak pakai kayu, tapi pakai kompor yang menyemprotkan residu solar. Jadi tidak ada abu,” kenang Beni Sujendro, mantan Carik Margodadi, saat ditemui di kediamannya, Minggu (1/3/2026).
Sekitar sepuluh hingga dua belas pekerja mengoperasikan mesin pembuat genting. Sebagian besar berasal dari Kebumen, daerah yang dikenal dengan kualitas genting Soka. Bahan baku tanah liat diambil dari wilayah Beran sendiri. Produksi berjalan lancar dan menghasilkan genting pres kodok yang dikenal bermutu.
Bagi Beni, cerobong di Kapanewon Seyegan itu bukan sekadar bangunan tua. Rumahnya hanya berjarak belasan meter dari lokasi tobong. Ia masih mengingat masa kecilnya yang sering bermain di sekitar bangunan tersebut.
“Waktu kecil saya sering main di situ. Bahkan masuk ke bangunan cerobong yang belum jadi bersama teman-teman,” tuturnya.
Namun suasana berubah drastis setelah peristiwa 30 September dan 1 Oktober 1965. Aktivitas produksi berhenti. Asap yang biasanya mengepul dari cerobong tak lagi terlihat. Operasional tobong di Seyegan terhenti.
Di sekitar lokasi, aktivitas masyarakat bergeser menjadi pertunjukan kesenian seperti kethoprak. Menurut sebagian warga, pertunjukan itu kerap dimanfaatkan sebagai sarana propaganda politik pada masa tersebut.
Seiring waktu, bangunan tobong perlahan ditinggalkan. Kini, hanya cerobong yang masih berdiri kokoh. Rumpun bambu dan semak perdu tumbuh mengelilinginya. Di bagian bawah bangunan, masih terpatri tulisan “genting SK” beserta tahun pembuatannya.
“Sekarang sudah tidak ada apa-apa. Hanya cerobongnya saja yang masih berdiri,” ujar Beni pelan.
Cerobong sunyi di Kapanewon Seyegan itu menjadi saksi bisu. Ia merekam masa kejayaan industri kecil, gejolak sejarah 1965, hingga kenangan masa kecil warga yang tumbuh bersama perubahan zaman.
Di tengah perkembangan wilayah Seyegan hari ini, cerobong tua itu tetap berdiri. Diam, tetapi penuh cerita.