Seyegan – Berangkat dari semangat pemberdayaan masyarakat, sebuah kawasan eduwisata berbasis pertanian tumbuh dan berkembang di Padukuhan Barak I RT 03 RW 14, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Sleman. Melalui Jamal Farming, Jamaludin Nur Ridho, S.Tr.P berhasil menginisiasi dan mengembangkan Eduwisata Kampung Nanas Jumbo yang melibatkan warga dari hulu hingga hilir.

Konsep utama yang diusung Jamal Farming adalah kemitraan. Berbagai unsur lokal seperti kelompok tani, Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK, Gapoktan, hingga Karang Taruna dilibatkan secara aktif dalam proses budidaya, pengolahan, dan pemasaran nanas jumbo. Model ini menjadikan pertanian tidak hanya sebagai aktivitas produksi, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan penguatan ekonomi warga.

“Urip kudu urup, hidup itu harus memberi manfaat untuk orang lain. Kalau bertani hanya untuk diri sendiri, itu belum cukup,” ujar Jamaludin saat ditemui di Jamal Farm, Minggu (1/2/2026).

Pengembangan Kampung Nanas Jumbo bermula dari program dana desa berupa bantuan bibit nanas gratis dengan konsep satu rumah satu bibit. Program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Seiring meningkatnya kesadaran, warga mulai menanam tiga hingga lima bibit per rumah. Dukungan lain datang dari dana riset dosen dan penelitian mahasiswa, yang memperkuat kawasan ini hingga dikenal sebagai Kampung Nanas Amargoluwih Jumbo.

Dengan branding sebagai eduwisata, Jamal Farming kini menjadi destinasi kunjungan akademik berbagai perguruan tinggi, seperti UMY, UIN, UPN, IPB, UTY, Polbangtan YOMA, hingga UGM. Kegiatan yang dilakukan meliputi riset, magang, pembelajaran kewirausahaan, serta praktik budidaya tanaman hortikultura.

Jamal memilih nanas jumbo jenis Smooth Cayenne Filipina karena karakteristiknya yang ramah anak, minim duri, tidak menimbulkan rasa gatal, serta memiliki kandungan air tinggi yang cocok untuk produksi sirup. Selain itu, serat buahnya dapat diolah menjadi selai, sementara daun nanas dimanfaatkan dalam riset pupuk organik dan bahan serat kain.

Tak hanya fokus pada eduwisata, Jamal Farming juga mengembangkan penjualan bibit dan pupuk secara daring. Permintaan bibit nanas jumbo datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Papua, Kalimantan, Jakarta, Bogor, Sumatra Barat, Surabaya, hingga Kendal, Jawa Tengah.

Eksistensi Jamal Farming yang semakin dikenal luas tak lepas dari peran pemasaran digital melalui media sosial seperti Instagram, YouTube, dan TikTok. Jamal berharap Jamal Farming dapat menjadi ruang belajar bersama yang membuka perspektif baru bahwa pertanian di Seyegan memiliki masa depan cerah dan menjanjikan bagi generasi muda.