Seyegan – Misteri fenomena api berulang di Seyegan, Kabupaten Sleman, mulai menemukan titik terang. Tim gabungan dari berbagai lembaga menduga kemunculan api yang terjadi berulang di salah satu rumah warga berkaitan dengan anomali gas hidrogen hasil fermentasi limbah organik. Meski demikian, sumber pasti gas dan penyebab utama kebakaran spontan tersebut masih dalam tahap investigasi mendalam.

Dugaan itu mengemuka dalam rapat koordinasi lintas instansi yang digelar di Ruang Puntadewa Kantor Kapanewon Seyegan, Kamis (4/6/2026). Rapat dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Sleman dengan melibatkan tim peneliti dari UGM, UPN “Veteran” Yogyakarta, BRIN, Gegana, BPPTKG, BPBD DIY, hingga Dinas PUPESDM.

Kasus ini bermula ketika pada Minggu (31/5/2026), tim Gegana mendeteksi adanya kandungan gas metana di sekitar septic tank rumah yang menjadi lokasi kejadian. Sebagai langkah awal mitigasi, warga diminta membuka ventilasi rumah, memindahkan barang mudah terbakar, serta melakukan pengurasan septic tank. Namun, pengukuran ulang pada 3 Juni 2026 menunjukkan kadar gas yang bervariasi sehingga investigasi diperluas untuk mencari pemicu utama munculnya api.

Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) kemudian melakukan serangkaian observasi lapangan. Pada pengamatan awal Sabtu (30/5/2026), tim menemukan indikasi keberadaan gas metana, namun belum ditemukan anomali suhu signifikan melalui kamera termal maupun drone thermal. Situasi berubah saat pengukuran lanjutan dilakukan pada Senin (1/6/2026). Alat deteksi menunjukkan anomali gas hidrogen mencapai 40 ppm di sejumlah titik di dalam rumah, terutama di area kamar mandi dan kamar tidur.

Pengukuran kembali pada Rabu (3/6/2026) menunjukkan lonjakan signifikan. Tim UGM mendeteksi kadar gas hidrogen hingga 2.500 ppm, jauh di atas ambang normal sekitar 5 ppm. Berdasarkan temuan sementara, gas tersebut diduga berasal dari proses fermentasi limbah organik, termasuk kemungkinan limbah pemotongan ayam yang terfermentasi di dalam tanah dan merembes ke area rumah Agus Yani.

Selain hidrogen, tim juga mencurigai keberadaan gas fosfin (PH3) yang terbentuk dari material kaya fosfat hasil pembusukan organik. Gas ini dinilai berpotensi mudah terbakar pada suhu ruang, meskipun relatif sulit dideteksi secara langsung menggunakan alat konvensional.

Sementara itu, tim geologi dan geofisika dari UPN “Veteran” Yogyakarta menemukan indikasi gelembung gas dari retakan tanah (fracture) di sekitar rumah. Penelitian geolistrik menunjukkan dugaan sumber gas berasal dari sisi barat bangunan, sementara pengujian isotop karbon C14 masih dilakukan untuk memastikan apakah gas tersebut berasal dari fermentasi biologis atau gas alam.

BPPTKG juga melakukan analisis terhadap kandungan gas di lokasi. Hasil awal menunjukkan kadar gas metana masih berada di kisaran 0–1 persen, sehingga belum masuk kategori mudah terbakar. Karena itu, tim sementara lebih mengarah pada dugaan gas hidrogen sebagai faktor dominan pemicu api, dengan kemungkinan dipantik oleh listrik statis di dalam rumah.

Sebagai langkah mitigasi sementara, tim merekomendasikan peningkatan sirkulasi udara rumah, pengamanan benda mudah terbakar, serta penyuntikan air kapur ke dalam tanah guna menurunkan kadar gas hidrogen. Pemerintah daerah juga masih menunggu hasil kajian resmi lintas lembaga sebelum menetapkan langkah lanjutan.

Kasus fenomena api berulang di Seyegan kini menjadi perhatian serius berbagai pihak karena dinilai tidak biasa. Investigasi ilmiah terus dilakukan untuk memastikan sumber gas sekaligus mencegah risiko serupa terjadi kembali di lingkungan permukiman warga.