Seyegan – Kebon Miraos, rumah industri yang berlokasi di Mriyan XI, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, mengembangkan inovasi minuman sehat berbahan dasar buah parijoto. Produk bernama Parijoto Drink ini menjadi salah satu upaya mendorong kebangkitan UMKM Sleman melalui pemanfaatan potensi tanaman lokal khas daerah.

Parijoto Drink dikembangkan oleh Yulia Catur Hapsari sejak masa pandemi Covid-19. Berawal dari keprihatinan terhadap lesunya sektor usaha kecil saat pandemi, Yulia mencoba menghadirkan produk minuman ringan berbahan alami yang memiliki manfaat kesehatan sekaligus bernilai ekonomi.

Buah parijoto dikenal sebagai salah satu ikon Kabupaten Sleman. Tanaman ini mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berfungsi sebagai antioksidan serta mendukung daya tahan tubuh. Melalui Parijoto Drink, potensi tersebut diolah menjadi minuman siap konsumsi yang menyasar pasar minuman sehat dan herbal.

Dalam proses produksinya, bahan baku parijoto sebagian besar berasal dari kebun milik Kebon Miraos sendiri. Namun, untuk memenuhi permintaan yang meningkat, pasokan buah juga diambil dari kawasan Kaliurang, Sleman, serta dari Gunung Muria, Kudus, yang dikenal sebagai habitat alami tanaman parijoto. Selain buah parijoto, bahan lain yang digunakan meliputi air, gula pasir, garam, dan kayu manis.

Minuman Parijoto dikemas dalam botol ukuran 250 mililiter. Dalam kondisi suhu ruangan, produk ini dapat bertahan hingga lima hari, sedangkan jika disimpan dalam lemari pendingin, daya simpannya bisa mencapai lima bulan. Hal ini menjadi nilai tambah dalam pemasaran produk minuman sehat berbasis alami.

Ditemui di kebun tanaman herbal miliknya pada Jumat (19/12/2025), Yulia menjelaskan bahwa selain Parijoto Drink, Kebon Miraos juga mengembangkan produk herbal lainnya, seperti teh bunga telang dan teh kencana ungu. Produk-produk tersebut kerap diikutsertakan dalam berbagai pameran UMKM, baik di tingkat lokal maupun kabupaten.

Meski demikian, Yulia mengakui masih menghadapi kendala dalam aspek pemasaran. Menurutnya, promosi melalui kegiatan gebyar UMKM cenderung bersifat sesaat dan belum memberikan dampak jangka panjang. Oleh karena itu, ia berharap adanya strategi promosi yang lebih berkelanjutan agar produk UMKM berbasis kearifan lokal dapat dikenal lebih luas.

“Kami mengembangkan minuman berbahan parijoto bukan hanya untuk inovasi produk, tetapi juga sebagai upaya membangkitkan UMKM Sleman setelah pandemi. Parijoto adalah potensi lokal yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan pengolahan yang tepat, kami ingin memberi nilai tambah bagi petani sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” ujar Yulia.

Pengembangan Parijoto Drink di Kebon Miraos diharapkan mampu menjadi contoh inovasi UMKM di Kapanewon Seyegan, yang mengangkat kekayaan lokal sebagai kekuatan ekonomi sekaligus mendukung gaya hidup sehat masyarakat.