Seyegan — Di tengah dominasi musik modern yang kian masif, profesi pengrajin gamelan perlahan menjadi langka. Namun dari sebuah rumah sederhana di Dusun Jamblangan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, seorang empu gamelan tetap setia menjaga denyut musik tradisional Jawa. Ia adalah Supoyo (59), yang akrab disapa Dhe Kecuk, pengrajin gamelan yang bertahan dengan keahlian, kesabaran, dan rasa.

Ditemui di kediamannya (1/2/2026), rumah Dhe Kecuk sekaligus berfungsi sebagai bengkel kerja. Seperangkat gamelan, besi plat, alat las, palu, dan peralatan sederhana lainnya menjadi saksi perjuangan panjangnya dalam menekuni profesi yang tak banyak diminati generasi muda.

Supoyo mulai mengenal dunia pembuatan gamelan sejak tahun 1990 saat bekerja sebagai tukang las di tempat pengrajin gamelan di Banyuraden. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting hingga akhirnya, pada 2012, ia bersama istrinya, Sarjiatun, memberanikan diri membuka usaha mandiri sebagai pengrajin gamelan di Seyegan.

Tantangan terbesar dalam membuat gamelan, menurut Dhe Kecuk, bukan pada bahan atau peralatan, melainkan pada titi laras—penentuan nada yang tepat agar gamelan terdengar selaras dan hidup. Proses pelarasan dilakukan tanpa rumus baku, melainkan mengandalkan kepekaan rasa dan ketajaman pendengaran.

“Melaras gamelan itu pakai rasa. Salah sedikit saja, nadanya bisa mati,” ujarnya.

Keahlian tersebut mengantarkan Dhe Kecuk dikenal sebagai ahli laras. Pesanan gamelan pun datang dari berbagai daerah di Jawa hingga luar pulau, seperti Sumatra, Sulawesi, dan Papua. Salah satu karya monumentalnya adalah gong berdiameter tiga meter yang kini terpasang di sebuah gedung kesenian di Belanda.

Meski secara teknis pembuatan gamelan relatif dapat ia kuasai, Dhe Kecuk mengaku keprihatinannya justru terletak pada menurunnya kebutuhan akan gamelan. Minimnya regenerasi dan berkurangnya ruang pertunjukan seni tradisional menjadi tantangan serius.

“Yang berat sekarang bukan membuat gamelan, tapi bagaimana gamelan tetap dibutuhkan dan bisa menghidupi pembuatnya,” tuturnya lirih.

Kisah Dhe Kecuk menjadi potret nyata pelaku seni tradisional di Kapanewon Seyegan yang tetap bertahan di tengah arus zaman. Seni tradisi tidak hanya perlu dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga harus mampu memberi penghidupan layak bagi para pelakunya. Tanpa itu, gamelan dan empunya bisa benar-benar tinggal cerita.