Seyegan – Gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Padukuhan Barak II, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan mulai kembali bergeliat. KPSM BARTAKUM IMAN atau Barak Tanpa Kumuh, Indah, Nyaman kini berupaya bangkit setelah hampir satu dekade menjalankan program sedekah sampah yang sempat mengalami pasang surut, terutama sejak pandemi Covid-19.
Kebangkitan gerakan tersebut ditandai melalui kegiatan pembinaan dan pelatihan pengelolaan sampah yang digelar di Serambi Masjid Al Mubarok Barak II, Sabtu (13/6/2026). Kegiatan diikuti sekitar 25 peserta yang terdiri atas pengurus KPSM, ibu-ibu PKK, kader, tokoh pemuda, serta tokoh masyarakat.
Program pembinaan ini menjadi langkah strategis Pemerintah Kalurahan Margoluwih dalam memperkuat keberlanjutan pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus mendorong regenerasi pengurus yang dinilai mulai melemah.
Selama hampir 10 tahun berjalan, program sedekah sampah di Barak II menjadi salah satu model pengelolaan sampah masyarakat di wilayah Margoluwih. Namun dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas kelompok mengalami penurunan karena sebagian besar pengurus lama telah lanjut usia dan keterlibatan generasi penerus masih terbatas.
Ulu-Ulu Kalurahan Margoluwih, Sutikno, mengatakan persoalan sampah akan terus menjadi tantangan bersama sehingga membutuhkan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
“Kalurahan secara khusus mengalokasikan dana pembinaan dan pelatihan pengelolaan sampah karena sampai kapan pun sampah akan menjadi masalah, sebab kita semua adalah produsen sampah. Terlebih sekarang ini masih banyak terjadi pembuangan sampah liar, termasuk di wilayah Margoluwih,” ujarnya.
Menurut Sutikno, kegiatan pembinaan tidak hanya bertujuan menghidupkan kembali program sedekah sampah, tetapi juga menjadi momentum penyegaran organisasi melalui pelibatan generasi muda sebagai calon pengurus baru.
Dalam sesi pelatihan, praktisi pengelolaan sampah sekaligus Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kapanewon Seyegan, Sutarto Agus Raharjo, menekankan pentingnya pengelolaan sampah dimulai dari tingkat rumah tangga.
“Pengelolaan sampah paling efektif dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Minimal masyarakat bisa memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibuang,” jelas Sutarto.
Ia mengajak masyarakat membiasakan pola hidup 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membawa tas belanja sendiri saat beraktivitas.
Tak hanya itu, peserta juga dikenalkan dengan berbagai metode pengolahan sampah organik berbasis teknologi tepat guna, seperti jugangan, biopori, losida, biopot, hingga komposter rumah tangga. Metode tersebut dinilai murah, mudah diterapkan, dan efektif mengurangi timbunan sampah rumah tangga.
Untuk pengelolaan sampah anorganik, khususnya botol plastik, Sutarto memperkenalkan konsep Rumah Pilah Sampah (Rumpi-ah) sebagai sistem pengelolaan yang lebih tertata. Ia juga mengenalkan penggunaan aplikasi berbasis web Siosestu (Sistem Informasi Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu) guna mendukung pencatatan aktivitas pengelolaan sampah secara digital.
Menurutnya, keterlibatan anak muda menjadi faktor penting dalam keberlanjutan gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Pendataan berbasis digital membutuhkan keterlibatan generasi muda. Karena itu, sedekah sampah perlu merekrut anak-anak muda agar gerakan ini bisa terus berlanjut,” tambahnya.
Melalui pembinaan tersebut, KPSM BARTAKUM IMAN diharapkan mampu kembali menjadi motor penggerak kebersihan lingkungan di Barak II sekaligus contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kalurahan Margoluwih. Dengan regenerasi pengurus dan keterlibatan pemuda, gerakan sedekah sampah diharapkan tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan di masa mendatang.
