Seyegan – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Indonesia (UII) Unit 75 mengajak warga Padukuhan Jamblangan mengelola sampah organik rumah tangga melalui pembuatan biopori. Program tersebut juga diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan daya resap air dan mengurangi genangan saat musim penghujan.

Kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan biopori digelar di rumah Dukuh Jamblangan, Kamis (27/8/2026). Sekitar 40 warga dari tiga RW di Padukuhan Jamblangan mengikuti kegiatan tersebut.

Program ini menjadi bagian dari rangkaian pengabdian KKN UII Unit 75 di Posko Dusun Jamblangan. Selain program biopori, mahasiswa juga menjalankan kegiatan Bimbingan Belajar (Bimbel) dan pengajaran Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).

Ketua Unit 75 KKN UII, Fauzan Al Fuadi, mengatakan program pembuatan biopori berangkat dari persoalan sampah organik yang masih belum dikelola secara optimal oleh masyarakat.

Menurutnya, sampah basah rumah tangga sebenarnya dapat diolah dengan metode sederhana dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Masih banyak sampah basah atau organik yang belum terkelola dengan baik. Karena itu, perlu dicarikan solusi yang sederhana dan bisa diterapkan oleh masyarakat. Salah satu yang kami tawarkan adalah pembuatan biopori,” ujar Fauzan.

Ia menjelaskan, biopori tidak hanya dapat digunakan untuk mengelola sampah organik. Teknologi sederhana tersebut juga berfungsi sebagai lubang resapan air sehingga dapat membantu mengurangi genangan ketika curah hujan meningkat.

Penanggung jawab kegiatan sosialisasi, Siti Mulyana Saleh, memperkenalkan konsep dasar biopori kepada warga sebelum praktik dimulai.

Mahasiswi Jurusan Kimia yang akrab disapa Cici itu menjelaskan bahwa biopori merupakan pori atau lubang di dalam tanah yang dapat mendukung aktivitas organisme tanah dan akar tanaman.

Menurut Cici, pemilihan biopori sebagai program KKN UII Unit 75 didasarkan pada kondisi lingkungan di Padukuhan Jamblangan. Selain menghadapi persoalan sampah organik, sejumlah titik di wilayah tersebut juga mengalami genangan saat musim penghujan.

“Biopori ini bisa dimanfaatkan bukan hanya sebagai tempat untuk mengelola sampah organik, tetapi juga sebagai lubang resapan dan sarana untuk memanen air hujan,” jelasnya.

Ia menambahkan, sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan mengalami proses penguraian secara alami. Hasil penguraian tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai kompos untuk menyuburkan tanaman.

Dengan demikian, satu metode sederhana dapat memberikan beberapa manfaat sekaligus, mulai dari mengurangi sampah organik, meningkatkan resapan air, hingga memperbaiki kesuburan tanah.

Warga Praktik Langsung Membuat Biopori

Setelah mendapatkan materi, warga Jamblangan diajak langsung mempraktikkan pembuatan biopori yang telah disiapkan mahasiswa KKN UII Unit 75.

Tahapan pembuatan dilakukan secara sederhana. Mahasiswa menjelaskan penggunaan pipa paralon dengan panjang sekitar satu meter dan diameter empat inci. Bagian dinding pipa terlebih dahulu dilubangi sebelum dipasang ke dalam tanah.

Warga kemudian diajak menentukan lokasi yang sesuai, membuat lubang, memasang pipa paralon, serta memasukkan sampah organik ke dalam lubang biopori.

Sampah organik yang digunakan disarankan dipotong menjadi bagian-bagian kecil agar proses penguraian dapat berlangsung lebih cepat. Daun kering atau sedikit tanah juga dapat ditambahkan untuk membantu menjaga kondisi di dalam lubang.

Untuk mendukung proses pengomposan, warga dapat menjaga kelembapan bahan organik secara berkala. Kompos dari lubang biopori diperkirakan dapat dipanen setelah sekitar dua hingga tiga bulan.

“Selain untuk meresapkan air dan mengelola sampah organik rumah tangga, biopori juga bisa menghasilkan kompos, mengaktifkan organisme tanah, dan menjaga kesuburan tanah,” terang Cici.

Pada akhir kegiatan, KKN UII Unit 75 menyerahkan satu unit biopori kepada Karang Taruna Padukuhan Jamblangan.

Mahasiswa juga menyerahkan tiga tempat sampah portable kepada tiga RW yang berada di wilayah Padukuhan Jamblangan.

Penyerahan sarana tersebut diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pengelolaan sampah di tingkat masyarakat setelah program KKN berakhir.

Melalui sosialisasi dan praktik tersebut, mahasiswa berharap warga tidak lagi memandang sampah organik semata-mata sebagai limbah yang harus dibuang.

Sampah rumah tangga dapat dikelola sejak dari sumbernya dan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan lingkungan maupun pertanian.

Program KKN UII Unit 75 di Padukuhan Jamblangan menjadi salah satu upaya mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui teknologi sederhana yang mudah diterapkan.

Dengan pemanfaatan biopori, warga diharapkan mampu mengurangi sampah organik, meningkatkan daya resap tanah, membantu mengurangi genangan air, serta menghasilkan kompos secara mandiri.

Satu lubang biopori di halaman rumah diharapkan dapat menjadi langkah kecil dalam membangun kebiasaan pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan di Padukuhan Jamblangan.