Bertempat di Titik Kumpul (Tikum) Tegalweru Margodadi Seyegan, Kamis (27/7) dilakukan penutupan Sekolah Lapang Budidaya Cabai yang sudah berlangsung selama 5 bulan.
Penutupan Sekolah lapang (SL) yang diikuti oleh 25 petani cabai dari Seyegan, Godean, Minggir dan Moyudan ini didahului dengan panen cabai petikan ke 20 di lahan milik Rudi Ruswanto seluas 1200 m2 yang terletak di Tegalweru.
Mewakili siswa SL budidaya cabai, Rudi yang ditunjuk juga sebagai ketua Kelas menyampaikan bahwa banyak suka duka selama mengikuti SL. Banyak ilmu yang didapat berkaitan budidaya yang berupa manajemen pengairan, merawat tanaman di cuaca ekstrem dan mengenal hama cabai.
Margodadi sendiri tempat yang tepat untuk SL budidaya cabai, mengingat Margodadi sebagai sentra cabai dengan 60 – 70 Ha ditanami cabai setiap tahunnya. Rudi menyampaikan bahwa petikan ke 18 dengan hasil 1,2 ton kumulatif secara hitungan sudah balik modal, dan masih dilanjutkan 20 – 25 petikan lagi
Kabid Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Ir. Liem Astuti, MM, dalam sambutan dan pengarahannya menyampaikan selamat kepada 25 peserta SL yang dinyatakan lulus dalam pendidikan selama 5 bulan dengan 8 kali pertemuan. Bagi pemula SL ini sangat diperlukan sedangkan bagi pelaku budi daya cabai, SL ini dijadikan tempat diskusi berbagai hal mengenai cabai sehingga ilmunya berkembang.
Liem mengingatkan bahwa dalam SL tersebut, siswa belajar bahwa dalam budi daya, musim sangat berpengaruh. Ada inovasi/pembaharuan dalam perawatannya. Demikian juga dalam perencanaan budi daya harus disesuaikan dengan cuaca, pola pengairan dan juga pasar.
Liem menyampaikan harga cabai ori yang berkisar Rp 24.000,- dirasa cukup bagus sehingga petani diuntungkan. Diakhir pengarahannya, Liem berpesan setelah 8 kali pertemuan SL ini untuk segera diaplikasikan dalam budidaya mandiri dan ilmu yang telah didapat untuk ditularkan kepada petani kain. Liem juga mengingatkan untuk pencatatan sebagai bahan evaluasi dan perhitungan selama budidaya.
Jalmo Susilodiprojo, Lurah Margodadi dalam kesempatan tersebut menyampaikan rasa terima kasihnya, yang telah menunjuk Margodadi menjadi tempat SL. Jalmo berpesan kepada peserta untuk menyebarkan ilmunya di kelompok lain. Artinya dengan SL petani meningkat ilmunya yang berdampak pada hasil dari budi daya yang diusahakan.
Jalmo juga menyampaikan Dana Desa dari pemerintah Margodadi untuk ketahanan pangan juga sudah dilaksanakan.
Kawat Kemakmuran kapanewon Seyegan, Rini Nurhidayati, MM, dalam sambutannya menyampaikan bahwa dengan SL ada transfer ilmu baik mengenai pengolahan lahan, manajemen air, mengenal hama, dan merawat budidaya di cuaca ekstrem. Rini juga mengapresiasi kepada pemerintah Kalurahan Margodadi yang telah mengalokasikan 20 % dari dana desa untuk ketahanan pangan.
Diakhir penutupan SL, Rudi mewakili peserta SL mengucapkan banyak terima kasih atas ilmu dan pendampingan yang telah diberikan oleh Subiyatno dan Teresia Nastiti selaku PPL sehingga hasil SL di 3 tempat di wilayah Margodadi yaitu Jagalan, Terwilen dan Tegalweru berjalan dengan baik dan hasilnya sangat menggembirakan