Seyegan – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Margomulyo terus memperluas jangkauan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tidak hanya menyasar anak sekolah, SPPG Margomulyo kini mulai melibatkan ibu hamil dan ibu menyusui sebagai penerima manfaat, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas generasi masa depan di wilayah Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.

Ketua SPPG Margomulyo, Joni Prasetyo, S.Psi, M.Pd, menjelaskan bahwa pemenuhan gizi tidak dapat dipisahkan dari peran ibu, khususnya pada masa kehamilan dan menyusui. Hal tersebut disampaikannya saat ditemui di Kantor SPPG Margomulyo, Rabu (7/1/2026).

“Kami tidak hanya fokus pada anak sekolah. Ibu hamil dan ibu menyusui juga menjadi perhatian kami, karena mereka sangat menentukan kualitas generasi ke depan,” ujar Joni.

Saat ini, SPPG Margomulyo melayani 3.757 anak sekolah yang tersebar di 9 SD, 1 SMP, 13 PAUD/TK, 1 SMA, dan 1 SMK. Atas kinerja tersebut, SPPG Margomulyo memperoleh Grade A dari Badan Gizi Nasional (BGN) dengan kapasitas maksimal pelayanan mencapai 4.000 penerima manfaat.

Dalam pelaksanaannya, SPPG Margomulyo menerapkan evaluasi ketat terhadap menu dan distribusi MBG. Setiap porsi makanan ditimbang sebelum dibagikan, termasuk sisa makanan yang kembali ke dapur.

“Pada awal program, limbah makanan yang kembali bisa mencapai 83 kilogram per hari. Sekarang rata-rata tinggal sekitar 29 kilogram dari total distribusi 700 sampai 800 kilogram per hari,” jelas Joni.

Penurunan limbah tersebut, menurutnya, tidak lepas dari evaluasi rutin dan masukan dari sekolah melalui Person On Charge (PIC) MBG di masing-masing satuan pendidikan. Evaluasi rasa dan menu terus dilakukan agar makanan benar-benar dikonsumsi oleh penerima manfaat.

Selama masa liburan sekolah, MBG tetap diberikan dalam bentuk menu kering dengan satu kali pengantaran untuk seluruh periode liburan.

Sejak dua bulan terakhir, program MBG juga menjangkau 49 ibu hamil dan 190 ibu menyusui. Untuk kelompok ini, distribusi dilakukan secara terpusat di dapur SPPG Margomulyo dan Kantor Kapanewon Seyegan, dengan sistem pengambilan menu kering untuk kebutuhan satu minggu.

Sebagai SPPG Percontohan Nasional, Margomulyo juga menerapkan konsep Dapur Hijau. Sampah basah dimanfaatkan sebagai pakan maggot bekerja sama dengan Masjid Nurul Asri Deresan Yogyakarta, sedangkan sampah anorganik disalurkan ke TPS3R Sleman. Limbah cair dikelola melalui sistem lima bak penampungan.

Meski demikian, Joni mengakui masih ada sasaran yang belum terjangkau, yakni balita. Ia berharap ke depan program MBG untuk balita dapat segera direalisasikan.

“Pemenuhan gizi balita juga sangat penting dan menjadi harapan kami ke depan,” pungkasnya.