Bertempat di Gedung Serba guna Kalurahan Margomulyo, Rabu (13/9), BP4 Seyegan mengadakan pelatihan pembuatan MOL dan Biosaka bagi Gapoktan Margomulyo. Kegiatan yang difasilitasi oleh Ulu ulu Margomulyo ini, bertujuan intuk nembantu kesuburan tanah dengan memanfaatkan mikroorganisme lokal dari bahan alami.
Demikian yang disampaikan oleh Dra. Sri Lestari, Ulu ulu Margomulyo dihadapan 30 peserta yang merupakan pengurus Gapoktan. Sri berharap setelah pelatihan, ilmu yang didapatkan bisa langsung dipraktekkan dan diaplikasikan di lahan mading masing.
Maryati, PPL Margomulyo yang memberikan materi pembuatan MOL menyampaikan bahwa dengan kebijakan pemerintah yang membatasi pupuk bersubsidi, banyak petani yang mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan pupuknya. Untuk itu, Maryati mengajak Gapoktan intuk membuat pupuk organik sendiri yang bahan dadarnya ada disekitar kita atau bahkan sudah dianggap sebagai sampah.
Tanah yang sudah rusak karena kebanyakan pupuk kimia menjadi faktor utama untuk mengajak petani menggunakan pupuk organik. Tanah memerlukan mikroorganisme pengurai untuk menyuburkan tanah, sehingga perlu kiranya membuat organisme lokal dari bahan alami, demikian Maryati menambahkan.
Setelah menjelaskan secara teori tentang pembuatan MOL, Maryati mengajak peserta untuk praktek langsung dengan menggunakan bahan buah nanas yang sudah disiapkan. Nabas yang digunakan sudah diparut/dihaluskan sebanyak 1 kg, ditambah 20 lt air matang /sumur dan ditambah gula pasir sebanyak 250 gr (30 sendok). Ketiga bahan dicampur merata, disaring dan dimasukkan ke dalam botol kemudian ditutup dan ditunggu selana 1 minggu dengan perlakuan setiap hari di goyang supaya endapan tercampur dan tutupnya dibuka sedikit untuk menghilangkan gasnya.
Sesudah 1 minggu, MOL sudah jadi dan bisa langsung digunakan dengan cara dikocor ataupun disemprotkan. Fungsi dari MOL ini adalah sebagai POC (Pupuk Organik Cair).
Theresia, Nara Sumber yang kedua memberikan pelatihan pembuatan biosaka. Theresia mengatakan bahwa prinsip utama adalah dari alam kembali ke alam. Adapun syarat pembuatan Biosaka adalah tanaman yang digunakan sebagai bahan dasar adalah tanaman liar (rumput rumputan), tanaman harus sehat, minimal 5 jenis tanaman dan beratnya 250 gr.
Theresia mengajak peserta untuk langsung praktek pembuatan biosaka dengan menyiapkan bahan yang berupa tanaman yang sudah dibawa dan ember berisi air secukupnya. Tanaman dimasukkan dalam air dan kemudian dipijat pijat (tidak diremas) sehingga warnanya keluar. Adapun waktu untuk memijatnya selama 30 menit.
Setelah itu, diukur dengan alat TDS, pembuatan biosaka dikatakan berhasil.bila mencapai angka minimal 300. Kemudian dilakukan penyaringan ke dalam botol. Cairan biosaka ini bisa bertahan sampai dengan 4 tahun. Biosaka dikatakan rusak bila terjadi perubahan terhadap bau dan warna.
Aplikasi biosaka adalah dengan mencampur air 1 tangki (14 lt) dengan 8 tutup botol air mineral. Untuk lahan 1 Ha membutuhkan 3-4 tangki. Bisa diaplikasikan ke semua jenis tanaman dengan cara menyemprotkan (dikabutkan) dengan ketinggian 1 meter diatas tanaman.
Di Bagian akhir, Theresia menjelaskan bahwa fungsi dari Biosaka sendiri adalah sebagai elisitor (metabolik sekunder) yang membuat tanaman lebih sehat sebagaimana tanaman dasar yang dipakai untuk pembuatan biosaka